Minggu, 23 Januari 2011

BURLESQUE, Duet Sri Panggung Lintas Generasi


Film penuh penghiburan dalam bingkai nada-nada indah.
Akting Christina Aguilera sedikit di atas harapan dan Cher
menyempurnakannya.


“WELCOME to Burlesque! Meski tanpa jendela, kami memiliki pemandangan terindah di seluruh Los Angeles,” sambut seorang pria yang jelas-jelas gay kepada Alice Maryln Rose alias ‘Ali’ (diperankan penyanyi pop Aguilera).
Karena dibujuk begitu, Ali yang seharian gagal mendapatkan
pekerjaan di LA lantas pasrah menyerahkan dua lembar US$10 yang ia miliki. Ali begitu ingin mengintip pertunjukan glamor di kelab kecil tersebut. Para penampil di Burlesque memang terkenal sebagai penari dan penyanyi lip sync yang memikat.
Bersama langkah Ali memasuki kelab, penonton akan terkesima menyaksikan penampilan biduanita Tess (Cher, Tea with Mussolini) di nomor Welcome to Burlesque. Ketika bertepuk tangan pada not terakhir, Ali pun bertekad menjadi salah satu penampil di panggung tersebut.
Setelah banting tulang menjadi waitress dan ikut audisi untuk menggantikan salah satu penari yang hamil, Ali akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung.
Suatu ketika, Tess yang juga pemilik kelab dibuat pusing oleh si bintang utama saat itu, penari pecandu alkohol Nikki (Kristen Bell). Ia pun menyuruh Ali menggantikan Nikki. Dibakar cemburu, Nikki menyabotase mikrofon Ali yang sedang menyanyi lip sync.
Tess yang berada di balik layar panik setelah satu per satu penonton
angkat kaki dari kelab. Tirai pun ditutup.
Namun, apa yang terjadi? Ali pun membuka mulut dan berimprovisasi di lagu Tough Lover dengan karakter suaranya yang bervibra. Para penonton, penari latar, Tess, dan bahkan Nikki terkesima. Tirai kembali
dibuka, penonton bersorak sorai dan Tess pun mendaulat Ali sebagai bintang utamanya mulai malam itu.
Sepanjang 119 menit, fi lm ini berkutat pada perjuangan Tess menyelamatkan Burlesque miliknya dari kepailitan, tekad Ali
menjadi seorang megabintang dibumbui drama percintaan dengan bartender Jack (Cam Gigandet), serta suka duka kehidupan penari bar.

Klise

Ide cerita itu, diakui sutradara Steve Antin, berawal dari penampilan band The Pussycat Dolls bersama Aguilera di awal 2000-an di kelab Neo-
Bur lesque. Kebetulan, Antin kakak Robin Antin (pendiri The Pussycat Dolls).
Plot cerita dibuat Antin sederhana saja, bahkan klise. Seorang perempuan muda penuh bakat mengejar impian ke ke kota besar.
Jadi, jangan harapkan alur cerita nan satir dan kompleks ala adaptasi Broadway seperti Chicago (2002) atau Nine (2009) di film ini.
Meski trailer film ini tergolong menjanjikan, sebetulnya banyak adegan yang bisa dieksplorasi.
Misalnya Nikki yang menyebalkan akan lebih menarik jika kompleksitas karakternya lebih terlihat. Begitu pula Georgia (diperankan penari Julianne Hough) yang setelah hamil di luar nikah sepertinya ‘mudah’ saja mendapatkan happy ending.
Jika dibandingkan, film Dreamgirls (2006) yang juga adaptasi Broadway setidaknya masih memperlihatkan konflik antara Deena Jones (Beyonce
Knowles), Effie White (Jennifer Hudson), dan manajer mereka Curtis Taylor Jr (Jamie Foxx).
Hasilnya, kisah Dreamgirls lebih epik walaupun ide kedua film itu sama-sama mengenai mengejar impian. Hanya, mungkin perlu diingat bahwa ide Antin untuk Burlesque memang cukup orisinal alias bukan adaptasi karya lawas. Seperti Robin, adiknya, Antin memang piawai menampilkan adegan penuh akrobat, bulu angsa, glitter, dan stoking jaring-jaring di film ini.
Di luar alur cerita yang sebetulnya biasa saja, cukup menyenangkan melihat film musikal dewasa setelah maraknya High School Musical (2006) dan serial televisi Glee.

Sri panggung

Penampilan distingtif ‘duo Sri Panggung’ alias diva beda generasi Aguilera dan Cher menjadi poin utama film ini. Cher, yang menampilkan balada You Haven’t Seen the Last of Me karya Diane Warren (sepenuhnya
live) mampu membuat interpretasi atas bekas primadona yang masa-masa
keemasannya sudah lewat. Setelah tujuh tahun tidak melihat penyanyi Believe ini tampil, sepertinya kita akan setuju bahwa biduanita 1980-n itu memang belum berakhir.
Di sisi lain, Aguilera sebagai Alice Marilyn ‘Ali’ Rose tampil dengan suara lantang akrobatik yang menjadi ciri khasnya. Sayangnya, pilihan Antin terhadap Aguilera bisa jadi merupakan pisau bermata dua. Para penikmat musik mungkin tidak akan terkaget-kaget saat karakter Ali ‘merebut’ panggung Burlesque. Tak ada efek surprise seperti ketika menonton jebolan American Idol Jennifer Hudson sebagai Effie di Dreamgirls.
Sudah begitu, Aguilera di panggung Burlesque adalah Aguilera, bukan Ali, meskipun di luar itu akting Aguilera cukup meyakinkan. Apakah
itu bukti bahwa setelah Jennifer Hudson, belum ada lagi penyanyi baru yang bisa mengemban tugas serupa?
Apa pun, film yang baru diganjar best original song dalam perhelatan Golden Globe ini tetaplah menghibur dan barangkali bisa menyemangati
Anda mengejar mimpi. Apa pun itu. (M4)


Dimuat di harian Media Indonesia, rubrik Pop Eskapisme, halaman 14