IBARAT serial televisi Holywood berjudul West Wing, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh orang-orang yang kritis di lingkaran dalam Istana. Mantan-mantan aktivis pun seakan mengalami goncangan budaya alias culture shock yang membuat mereka terlalu banyak berkomentar secara informal dan merembet ke personal. Padahal, kalau mau meniru West Wing, seharusnya 'manusia-manusia hebat' itu lebih banyak bekerja di belakang layar.
Ketika Soeharto memimpin, fungsi kehumasan negara biasanya diemban oleh Menteri Penerangan Harmoko atau Moerdiono yang saat itu menjabat sebagai Mensesneg. Maka, kalau dibandingkan dengan sekarang, seharusnya Mensesneg Sudi Silalahi yang banyak berbicara. Kenyataannya? Hampir semua lingkaran dalam Istana ikut sumbang suara.
Selain Dipo Alam, mantan aktivis 1978 yang kini menjadi Sekretaris Kabinet, SBY menaruh aktivis-aktivis 1990-an di sangkar kekuasaannya. Sebut saja Andi Arief yang menjadi staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang dulunya aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fisip UGM 1993-1994 dan Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa Fisipol 1994-1995. Belum lagi dua juga staf khusus Presiden Velix Wanggai dan Denny Indrayana. Velix yang kuliah di jurusan Hubungan Internasional UGM menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah sementara Denny yang kini menjabat sebagai staf khusus bidang hukum sempat menjadi aktivis pers Mahasiswa Fakultas Hukum UGM.
Baru-baru ini, Dipo dan Andi membuat geger publik akibat pernyataan yang begitu reaktif dan terkesan tidak dipikir masak-masak. Dipo dengan provokasi untuk memboikot dua media televisi dan satu media cetak yang kritis, Andi via akun jejaring sosial Twitter menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah. Apakah mereka mengalami goncangan budaya sehingga lupa diri akan jabatan publik yang diemban? Apakah mereka masih butuh waktu lagi untuk penyesuaian menjadi pejabat publik?
Menyitir sambutan WS Rendra saat menerima Penghargaan Akademi Jakarta (1975), metafora negara antara lain diibaratkan dengan penjaga tubuh dan penjaga roh. Peran masing-masing tak tergantikan dan tidak dapat dirangkap. Nah, penjaga roh seperti cendekiawan dan seniman berada di luar struktur kekuasaan. Mereka berumah di angin dan bertugas memberikan inspirasi dan daya hidup kepada masyarakat. Penjaga tubuh, dalam hal ini Pemerintah, membutuhkan suara kritis penjaga roh. Jadi, mengutip Hamdi, pekerjaan pengamat seperti para tokoh lintas agama memang cuma teriak-teriak saja. Justru, pejabat publik yang punya posisi harus lebih banyak berbuat dan bekerja ketimbang bicara melulu.
Sepantasnya, pejabat publik sedikit mengerem keinginan untuk berkicau di akun Twitter dan lebih fokus pada pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang ingin disampaikan ke publik, sebaiknya cukup satu pintu saja yakni juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha. Terlalu banyak pintu-pintu informal malah akan menimbulkan kekacauan di muka publik. Jangan salah, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pun punya Twitter. Tetapi apa yang dilakukan Obama lebih pada pernyataan-pernyataan resmi sebagai perpanjangan fungsi kehumasan pemerintahan 'Negeri Paman Sam'. Jangan samakan dengan debat Twitter ala Andi versus Fahri Hamzah yang sesungguhnya sudah bukan pada tempatnya lagi.
Katakanlah, para staf khusus itu membela diri bahwa pernyataan mereka murni sebagai pribadi, tentu saja itu akan susah. Bagaimanapun, mereka sudah menjadi pejabat publik sekarang dan bisa saja orang akan menafsirkan ucapan mereka sebagai bagian dari kebijakan Pemerintah. Seorang Obama pun tidak pernah berdebat di Twitter dan pernyataan yang ia buat murni pernyataan-pernyataan resmi selaku orang nomor satu 'Negeri Paman Sam.'
Lalu, apa yang membuat Dipo dan Andi mudah panas dan meledak di dalam menghadapi kritik Pemerintah? Setidaknya ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan. Pertama, kebiasaan cari muka dari pejabat publik kepada bos besar. Sebetulnya wajar saja apabila seseorang tunduk kepada sang atasan. Seorang Wimar Witoelar pun, meski aktivis, tetap membela almarhum Gus Dur saat menjadi RI 1. Setiap orang harus memihak sesuai dengan posisi politik yang berbeda-beda. Hanya, ditilik dari fakta bahwa masih ada jalan formal apabila merasa pemberitaan di media merugikan, seperti jalur hukum via somasi atau Dewan Pers, Dipo sudah melakukan kesalahan besar. Cara menghasut seperti yang dilakukan Dipo malah menjadi blunder tersediri karena hampir semua analis mengatakan itu kontraproduktif.
Kedua, kemungkinan ada semacam kesepakatan politik tersendiri pada lingkaran dalam SBY. Mungkin, Dipo tidak lebih dari sebuah bemper yang dilakukan untuk mengetes air atas sebuah kebijakan yang sebenarnya memang dari SBY. Tuan besar SBY pun tetap selamat. Bisa saja, mungkin sebenarnya memang Pak SBY yang kesal sama media. Namun, tentu bisa kacau kalau pernyataan yang bikin geger itu sampai keluar dari mulut seorang Presiden. Pengiriman sinyal pun dilakukan oleh Dipo. Presiden, seolah berkata: kamu aja yang ngomong deh. Tanpa bermaksud terjebak pada pola viktimisasi, Dipo bisa saja hanya bemper. Alias korban.
Artikel ini merupakan artikulasi dari hasil wawancara dengan Hamdi Moeloek, pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Jumat (25/2).
In the deepest hour of the night, confess to yourself that you would die if you were forbidden to write. And look deep into your heart where it spears its roots the answer and ask yourself; must I write? (Rainer Maria Rilke)
Rabu, 02 Maret 2011
Minggu, 23 Januari 2011
BURLESQUE, Duet Sri Panggung Lintas Generasi
Film penuh penghiburan dalam bingkai nada-nada indah.
Akting Christina Aguilera sedikit di atas harapan dan Cher
menyempurnakannya.
“WELCOME to Burlesque! Meski tanpa jendela, kami memiliki pemandangan terindah di seluruh Los Angeles,” sambut seorang pria yang jelas-jelas gay kepada Alice Maryln Rose alias ‘Ali’ (diperankan penyanyi pop Aguilera).
Karena dibujuk begitu, Ali yang seharian gagal mendapatkan
pekerjaan di LA lantas pasrah menyerahkan dua lembar US$10 yang ia miliki. Ali begitu ingin mengintip pertunjukan glamor di kelab kecil tersebut. Para penampil di Burlesque memang terkenal sebagai penari dan penyanyi lip sync yang memikat.
Bersama langkah Ali memasuki kelab, penonton akan terkesima menyaksikan penampilan biduanita Tess (Cher, Tea with Mussolini) di nomor Welcome to Burlesque. Ketika bertepuk tangan pada not terakhir, Ali pun bertekad menjadi salah satu penampil di panggung tersebut.
Setelah banting tulang menjadi waitress dan ikut audisi untuk menggantikan salah satu penari yang hamil, Ali akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung.
Suatu ketika, Tess yang juga pemilik kelab dibuat pusing oleh si bintang utama saat itu, penari pecandu alkohol Nikki (Kristen Bell). Ia pun menyuruh Ali menggantikan Nikki. Dibakar cemburu, Nikki menyabotase mikrofon Ali yang sedang menyanyi lip sync.
Tess yang berada di balik layar panik setelah satu per satu penonton
angkat kaki dari kelab. Tirai pun ditutup.
Namun, apa yang terjadi? Ali pun membuka mulut dan berimprovisasi di lagu Tough Lover dengan karakter suaranya yang bervibra. Para penonton, penari latar, Tess, dan bahkan Nikki terkesima. Tirai kembali
dibuka, penonton bersorak sorai dan Tess pun mendaulat Ali sebagai bintang utamanya mulai malam itu.
Sepanjang 119 menit, fi lm ini berkutat pada perjuangan Tess menyelamatkan Burlesque miliknya dari kepailitan, tekad Ali
menjadi seorang megabintang dibumbui drama percintaan dengan bartender Jack (Cam Gigandet), serta suka duka kehidupan penari bar.
Klise
Ide cerita itu, diakui sutradara Steve Antin, berawal dari penampilan band The Pussycat Dolls bersama Aguilera di awal 2000-an di kelab Neo-
Bur lesque. Kebetulan, Antin kakak Robin Antin (pendiri The Pussycat Dolls).
Plot cerita dibuat Antin sederhana saja, bahkan klise. Seorang perempuan muda penuh bakat mengejar impian ke ke kota besar.
Jadi, jangan harapkan alur cerita nan satir dan kompleks ala adaptasi Broadway seperti Chicago (2002) atau Nine (2009) di film ini.
Meski trailer film ini tergolong menjanjikan, sebetulnya banyak adegan yang bisa dieksplorasi.
Misalnya Nikki yang menyebalkan akan lebih menarik jika kompleksitas karakternya lebih terlihat. Begitu pula Georgia (diperankan penari Julianne Hough) yang setelah hamil di luar nikah sepertinya ‘mudah’ saja mendapatkan happy ending.
Jika dibandingkan, film Dreamgirls (2006) yang juga adaptasi Broadway setidaknya masih memperlihatkan konflik antara Deena Jones (Beyonce
Knowles), Effie White (Jennifer Hudson), dan manajer mereka Curtis Taylor Jr (Jamie Foxx).
Hasilnya, kisah Dreamgirls lebih epik walaupun ide kedua film itu sama-sama mengenai mengejar impian. Hanya, mungkin perlu diingat bahwa ide Antin untuk Burlesque memang cukup orisinal alias bukan adaptasi karya lawas. Seperti Robin, adiknya, Antin memang piawai menampilkan adegan penuh akrobat, bulu angsa, glitter, dan stoking jaring-jaring di film ini.
Di luar alur cerita yang sebetulnya biasa saja, cukup menyenangkan melihat film musikal dewasa setelah maraknya High School Musical (2006) dan serial televisi Glee.
Sri panggung
Penampilan distingtif ‘duo Sri Panggung’ alias diva beda generasi Aguilera dan Cher menjadi poin utama film ini. Cher, yang menampilkan balada You Haven’t Seen the Last of Me karya Diane Warren (sepenuhnya
live) mampu membuat interpretasi atas bekas primadona yang masa-masa
keemasannya sudah lewat. Setelah tujuh tahun tidak melihat penyanyi Believe ini tampil, sepertinya kita akan setuju bahwa biduanita 1980-n itu memang belum berakhir.
Di sisi lain, Aguilera sebagai Alice Marilyn ‘Ali’ Rose tampil dengan suara lantang akrobatik yang menjadi ciri khasnya. Sayangnya, pilihan Antin terhadap Aguilera bisa jadi merupakan pisau bermata dua. Para penikmat musik mungkin tidak akan terkaget-kaget saat karakter Ali ‘merebut’ panggung Burlesque. Tak ada efek surprise seperti ketika menonton jebolan American Idol Jennifer Hudson sebagai Effie di Dreamgirls.
Sudah begitu, Aguilera di panggung Burlesque adalah Aguilera, bukan Ali, meskipun di luar itu akting Aguilera cukup meyakinkan. Apakah
itu bukti bahwa setelah Jennifer Hudson, belum ada lagi penyanyi baru yang bisa mengemban tugas serupa?
Apa pun, film yang baru diganjar best original song dalam perhelatan Golden Globe ini tetaplah menghibur dan barangkali bisa menyemangati
Anda mengejar mimpi. Apa pun itu. (M4)
Dimuat di harian Media Indonesia, rubrik Pop Eskapisme, halaman 14
Selasa, 21 Desember 2010
Apa Bedanya
Naya adalah seorang remaja perempuan yang sangat pintar. Sayangnya, pintar di sini adalah pintar menjawab.
Suatu hari Naya pulang dari diskotik lewat tengah malam. Ibu Naya pun berkata.
"Naya, tidak baik perempuan baru pulang jam segini."
"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Upik Abu alias Cinderella yang dulu sering Ibu bacakan? Dia perempuan dan pulang setelah jam 12 malam."
Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.
Hari berikutnya, Ibu Naya menangkap basah Naya mengambil uang dari kamarnya diam-diam. Ibu Naya pun memarahinya.
"Naya, perbuatan mencuri itu tidak baik."
"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Robin Hood yang dulu sering Ibu bacakan? Dia juga seorang pencuri."
Si Ibu hanya bisa mengusap-usap dada.
Suatu hari Naya didamprat habis karena berbohong tentang nilai ulangannya. Ibu Naya pun berkata.
"Naya, kau tidak boleh berbohong. Itu dosa."
Naya memutar matanya.
"Tenang, Bu. Aku hanya mencontoh dongeng Pinokio yang dulu sering Ibu bacakan? Dia kan tukang bohong."
Lagi-lagi, Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.
Suatu hari Naya kembali pulang dari diskotik lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, terkejut Naya melihat sang Ibu tengah bercumbu di ruang tamu dengan tujuh pria sekaligus.
"Ibu? Apa-apaan ini?"
"Tenang, Nay. Apa bedanya Ibu dengan dongeng Snow White alias Putri Salju yang tinggal bersama tujuh pria sekaligus?"
Mata Naya jatuh pada tangan-tangan pria yang mengusap-usap dada Ibunda.
Kebon Jeruk, Desember 2010
Suatu hari Naya pulang dari diskotik lewat tengah malam. Ibu Naya pun berkata.
"Naya, tidak baik perempuan baru pulang jam segini."
"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Upik Abu alias Cinderella yang dulu sering Ibu bacakan? Dia perempuan dan pulang setelah jam 12 malam."
Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.
Hari berikutnya, Ibu Naya menangkap basah Naya mengambil uang dari kamarnya diam-diam. Ibu Naya pun memarahinya.
"Naya, perbuatan mencuri itu tidak baik."
"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Robin Hood yang dulu sering Ibu bacakan? Dia juga seorang pencuri."
Si Ibu hanya bisa mengusap-usap dada.
Suatu hari Naya didamprat habis karena berbohong tentang nilai ulangannya. Ibu Naya pun berkata.
"Naya, kau tidak boleh berbohong. Itu dosa."
Naya memutar matanya.
"Tenang, Bu. Aku hanya mencontoh dongeng Pinokio yang dulu sering Ibu bacakan? Dia kan tukang bohong."
Lagi-lagi, Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.
Suatu hari Naya kembali pulang dari diskotik lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, terkejut Naya melihat sang Ibu tengah bercumbu di ruang tamu dengan tujuh pria sekaligus.
"Ibu? Apa-apaan ini?"
"Tenang, Nay. Apa bedanya Ibu dengan dongeng Snow White alias Putri Salju yang tinggal bersama tujuh pria sekaligus?"
Mata Naya jatuh pada tangan-tangan pria yang mengusap-usap dada Ibunda.
Kebon Jeruk, Desember 2010
Senin, 12 Juli 2010
Kebesaran Hati Fans Oranje di Erasmus Huis, Kedubes Belanda
SUASANA Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda di Jl H.R. Rasuna Said dini hari tadi (12/7) begitu meriah oleh lautan pendukung "Oranje." Sebuah poster besar berwarna jingga bertuliskan "You Ain't Much if You Ain't Dutch" berada di depan. Gelas-gelas bir, makanan kecil seperti kentang goreng tidak henti-henti menemani penonton yang hadir.
Suasana begitu riuh rendah tatkala Belanda berkali-kali berhasil menepis tekanan tim Spanyol. Berkali-kali mereka meneriakkan umpatan ketika tidak puas akan keputusan wasit ataupun beberapa kejadian lainnya.

Namun, ketika gol tunggal Andres Iniesta pada menit ke-116 berhasil menerobos gawang "Tim Oranje", penonton pun seolah menahan napas. Teriakan kekecewaan begitu peluit panjang ditiup pun tidak terbantahkan.
"Berikutnya, mereka akan menang," papar Ursa menyatakan rasa optimisnya. Ia mengenakan hiasan kepala berwarna jingga dan penuh bulu pada acar "Nonton Bareng!" tersebut. "Sebetulnya Belanda main bagus, tetapi memang Spanyol juga kuat. Sekarang Spanyol menang tetapi empat tahun lagi pasti Belanda."
"Saya sedikit kecewa," tutur Edwin, manajer keamanan Erasmus Huis kepada Media Indonesia. Ia memperkirakan lebih dari 1.500 orang memenuhi Erasmus Huis dan lebih dari 90% di antaranya adalah warga Indonesia. "Menjadi posisi keamanan membuat saya tidak bisa menyaksikan pertandingan sepenuhnya untuk memberikan komentar. Namun, baik Spanyol maupun Belanda sama-sama bermain hebat dan harus ada satu tim yang memenangi pertandingan."
"Hancur hati gue!" tutur Gading Marten yang hadir mendukung tim kesayangannya di Erasmus Huis, Jakarta. "Saya tetap bangga sama Belanda. Juara tanpa mahkota memang selalu melekat di Belanda. Tapi memang kalau yang namanya bola memang selalu kontroversi seperti banyaknya kartu."
Gading juga berpendapat sebelum gol tunggal pertandingan terjadi itu sudah berada pada keadaan offset. Namun, ia tetap berbesar hati dan mengatakan pada sebuah pertandingan memang selalu ada menang dan kalah.
"Saya setuju untuk penggunaan hawk eye pada sepakbola. Tenis sudah pake, basket sudah pake jadi (sepak)bola sepertinya sudah harus pake," tutur Gading yang menyatakan masih terus mendukung tim Belanda untuk ke depannya.
Sementara bagian pers dan juru bicara Kedubes Belanda Dorine Wytema mengatakan sama sekali tidak berkeberatan perihal wasit pertandingam. Menurut Wytema yang tengah mengandung, referee sudah cukup fair.

"Ia memang membuat beberapa kesalahan bagi kedua tim, tetapi itu manusiawi dan masih cukup wajar," papar Wytema yang datang bersama suaminya. "Saya pikir wasit pertandingan kali ini oke-oke saja. Ia memimpin pertandingan dengan cukup baik."
Tatkala Media Indonesia menyinggung peluang Belanda di Pentas Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, Wytema berseloroh kini "Negeri Kincir Angin" memiliki sebuah "goal" baru.
"Ide untuk memakai teknik hawk eye adalah sebuah ide yang bagus. Ini untuk membantu wasit mengambil keputusan-keputusan signifikan pada sebuah pertandingan."
Itulah sekutip potret dari pendukung setia Oranje yang berbesar hati. Hup Holland Hup!
Suasana begitu riuh rendah tatkala Belanda berkali-kali berhasil menepis tekanan tim Spanyol. Berkali-kali mereka meneriakkan umpatan ketika tidak puas akan keputusan wasit ataupun beberapa kejadian lainnya.

Namun, ketika gol tunggal Andres Iniesta pada menit ke-116 berhasil menerobos gawang "Tim Oranje", penonton pun seolah menahan napas. Teriakan kekecewaan begitu peluit panjang ditiup pun tidak terbantahkan.
"Berikutnya, mereka akan menang," papar Ursa menyatakan rasa optimisnya. Ia mengenakan hiasan kepala berwarna jingga dan penuh bulu pada acar "Nonton Bareng!" tersebut. "Sebetulnya Belanda main bagus, tetapi memang Spanyol juga kuat. Sekarang Spanyol menang tetapi empat tahun lagi pasti Belanda."
"Saya sedikit kecewa," tutur Edwin, manajer keamanan Erasmus Huis kepada Media Indonesia. Ia memperkirakan lebih dari 1.500 orang memenuhi Erasmus Huis dan lebih dari 90% di antaranya adalah warga Indonesia. "Menjadi posisi keamanan membuat saya tidak bisa menyaksikan pertandingan sepenuhnya untuk memberikan komentar. Namun, baik Spanyol maupun Belanda sama-sama bermain hebat dan harus ada satu tim yang memenangi pertandingan."
"Hancur hati gue!" tutur Gading Marten yang hadir mendukung tim kesayangannya di Erasmus Huis, Jakarta. "Saya tetap bangga sama Belanda. Juara tanpa mahkota memang selalu melekat di Belanda. Tapi memang kalau yang namanya bola memang selalu kontroversi seperti banyaknya kartu."
Gading juga berpendapat sebelum gol tunggal pertandingan terjadi itu sudah berada pada keadaan offset. Namun, ia tetap berbesar hati dan mengatakan pada sebuah pertandingan memang selalu ada menang dan kalah.
"Saya setuju untuk penggunaan hawk eye pada sepakbola. Tenis sudah pake, basket sudah pake jadi (sepak)bola sepertinya sudah harus pake," tutur Gading yang menyatakan masih terus mendukung tim Belanda untuk ke depannya.
Sementara bagian pers dan juru bicara Kedubes Belanda Dorine Wytema mengatakan sama sekali tidak berkeberatan perihal wasit pertandingam. Menurut Wytema yang tengah mengandung, referee sudah cukup fair.

"Ia memang membuat beberapa kesalahan bagi kedua tim, tetapi itu manusiawi dan masih cukup wajar," papar Wytema yang datang bersama suaminya. "Saya pikir wasit pertandingan kali ini oke-oke saja. Ia memimpin pertandingan dengan cukup baik."
Tatkala Media Indonesia menyinggung peluang Belanda di Pentas Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, Wytema berseloroh kini "Negeri Kincir Angin" memiliki sebuah "goal" baru.
"Ide untuk memakai teknik hawk eye adalah sebuah ide yang bagus. Ini untuk membantu wasit mengambil keputusan-keputusan signifikan pada sebuah pertandingan."
Itulah sekutip potret dari pendukung setia Oranje yang berbesar hati. Hup Holland Hup!
Label:
Belanda,
Bola,
Erasmus Huis,
Liputan,
Piala Dunia
Rabu, 16 Juni 2010
Review Film Minggu Pagi di Victoria Park: Sepotong Ahad Kaum Marjinal Indonesia di Belahan Dunia

Judul : Minggu Pagi di Victoria Park
Pemain : Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Imelda Soraya, Permatasari Harahap
Sutradara : Lola Amaria
Penulis : Titien Wattimena
Produser : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman
Produksi : Pic[k]lock Production
Durasi : 97 menit
DUA orang pembantu alias TKI dan anak-anak asuh mereka pulang dari sekolah dasar. Salah satu dari mereka menggerutu karena si anak laki-laki yang merupakan anak majikan lagi-lagi berkelahi meski sudah dilarang. Ketika tuan mudanya mengeluh karena selalu dihina berdasarkan posturnya, si pengasuh pun naik pitam.
“Mayang bilang, kamu harus menerima kekurangan bahwa tubuh kamu itu kecil. Jika kamu tidak mau ikhlas, seumur hidupmu terisi dengan frustrasi dan amarah.”
Sepenggal kalimat itu terucap dari bibir Sari yang menerjemahkan perkataan temannya kepada anak asuhnya. Rekannya yang bernama Mayang (diperankan Lola Amaria) meminta agar Sari yang mengalihbahasakan dialek Indonesia-Jawa menjadi bahasa Kanton. Sari pun menyanggupi.
Terenyuh, si bocah memeluk pembantunya.
Itu adalah sekilas kisah hidup perempuan yang menjadi pahlawan devisa di mancanegara. Benang merah itu yang ingin ditampilkan kru film Minggu Pagi di Victoria Park. Penulis sempat melihat pola yang sama film besutan Ani Ema Susanti yang sempat menggagas kisah serupa. Bedanya, penampilan sutradara kali ini lebih menekankan kepada fiksi mini. Mini, karena sebagian besar realita ditampilkan begitu riil sampai terkesan film ini menjadi handbook untuk para calon TKI.
Namun, cerita yang sederhana dapat ditampilkan dengan kompleksitas dari rangkaian gambar di balik rangkaian pita seluloid. Sesungguhnya plot-plot yang ditampilkan cukup simpel: persaingan dua anak untuk mendapatkan pengakuan bapak, memberikan materi sebagai bentuk kasih sayang kepada pasangan, konflik batin seorang kakak yang iri tetapi mengasihi adiknya sampai cinta sesama jenis. Namun, kompleksitas justru muncul dari hal-hal sederhana tersebut.
Daya tarik Minggu Pagi di Victoria Park bisa jadi terletak di dua pemeran utamanya. Baik Lola Amaria maupun Titi Sjuman (yang kemarin menggaet hati audiens via penampilan apik di Mereka Bilang, Saya Monyet!) memberikan penghayatan penuh. Lola berperan sebagai Mayang, sulung yang haus perhatian ayah dan merasa biasa-biasa saja. Titi memerankan si bontot bernama Sekar yang selalu menjadi pusat tata surya kaum adam di sekitarnya—terutama ayahanda.
Cuplikan-cuplikan yang terselip di antara inti cerita mampu membangun pemahaman mengenai apa yang menyebabkan Mayang begitu ogah melacak si adik—terlepas dari kenyataan bahwa dirinya memang ditugasi pergi ke Hong Kong oleh bapak untuk itu.
Minggu Pagi di Victoria Park mengisahkan suka duka pembantu rumah tangga yang mendominasi sektor ketenagakerjaan di luar negeri. Seluruh konsekuensi atas tekanan jiwa yang dapat dialami TKI dikupas di dalam film ini mulai dari terbelit utang, menjual diri untuk mendapatkan pemasukan, sampai menutup riwayat pribadi karena tidak tahan menghadapi hidup.
Kekurangan sinema ini adalah terlalu banyak realita yang ingin dirangkum dalam sebuah cerita linear. Hal ini dapat mengakibatkan sebagian penyimak menganggap ada cerita yang terlalu berlebihan dan mengada-ada. Padahal, bisa jadi itu memang berdasarkan fakta.
Kelemahan yang sama terdapat pada film Alangkah Lucunya karya Deddy Mizwar yang, terlepas dari pertanyaan sosial yang diberikan, luruh ke dalam nilai-nilai komersialitas yang berlebihan. Penyajian merupakan hal yang terpenting dalam menyampaikan cerita, tetapi kearifan penonton untuk bisa meresapi makna di balik narasi jauh lebih penting.
Ending film ini meski termasuk kategori “bahagia” masih dibumbui klip masa silam yang membuat kita mengerti sepenuhnya dari mana kisah ini dimulai sebelum diakhiri. Di luar itu, terlihat cuplikan pagi Ahad di belahan dunia lain menampilkan sorakan “pahlawan devisa” menyambut grup musik kesayangan mereka. Band yang mungkin bagi kalangan tertentu di Indonesia dipandang tidak “keren” atau “trendi.” Ah, realita ... (*)
Sabtu, 13 Maret 2010
Reuni Kecil Toni Braxton dan Adik-adiknya di Java Jazz International 2010
Sesuatu yang menarik terjadi saat Toni Braxton mengadakan konser Sabtu (6/3) kemarin di JJF 2010. Selain mengundang Kenneth "Babyface" Edmonds menyanyikan satu lagu berjudul "Whip Appeal", Toni mengajak saudarinya Towanda Braxton untuk bernyanyi bersamanya. Bersama dua saudari Braxton lainnya, Trina dan Tamar, Towanda menyanyikan cuplikan lagu En Vogue berjudul "My Lovin' (Never Gonna Get It)".
Rasanya masih sedikit orang Indonesia yang tahu bahwa sebelum menjadi penyanyi solo, Toni Braxton memulai kariernya sebagai lead vocal grup The Braxtons. Di luar Toni, grup ini terdiri dari empat adik-adiknya: Traci, Trina, Towanda dan Tamar.
Mereka merilis lagu The Good Life pada tahun 1990. Lagu itu tidak menjadi hits, namun suara alto Toni menarik perhatian Antonio "L.A." Reid dan Babyface sendiri. Sayangnya, saat itu LaFace Records yang didirikan L.A. Reid dan Babyface sudah punya grup vokal TLC. Toni pun menandatangi kontrak sebagai penyanyi solo pertama di label tersebut.

Sebuah reuni kecil sebetulnya pernah terjadi. Ketika Toni mengeluarkan video untuk lagunya Seven Whole Days, adik-adiknya muncul sebagai penyanyi latar.
Pada tahun 1996, Trina, Towanda dan Tamar mengeluarkan album berjudul So Many Ways. Traci yang saat itu tengah hamil mengundurkan diri dari grup vokal itu. So Many Ways antara lain menampilkan kebolehan The Braxtons membawakan ulang lagu Diana Ross berjudul The Boss.
Grup ini akhirnya bubar ketika Tamar yang mampu bernyanyi dengan whistle register ala Mariah Carey dan Shanice memutuskan untuk bersolo karier. Tamar memang tidak sesukses kakaknya, Toni. Namun dirinya dikenal sebagai penyanyi klub yang cukup diakui, walaupun tidak memiliki hits.
Trina memilih jalur yang sedikit berbeda. Dia tampil di beberapa panggung broadway dan drama musikal seperti pada tahun 2004. Ia tampil di Meet the Browns karya Tyler Perry.
Akhirnya, kedua adik Toni ini membantu kakaknya sebagai penyanyi latar. Mereka sering terlihat hadir mendukung Toni saat manggung. Termasuk ketika Toni Braxton konser di Jakarta kemarin. Kehadiran Tamar yang sekilas mirip dengan Toni sempat membuat penonton heboh. Mereka mengira Toni yang muncul. Belakangan mereka baru sadar bahwa itu adalah penyanyi latar. :)
Berikut foto Tamar dan kakaknya, Toni.

Towanda yang sering merasa seperti black sheep di antara kelima saudarinya, muncul di serial Starting Over season 2. Reality show ini adalah sebuah acara dimana perempuan yang pernah merasa gagal di dalam hidupnya memulai lagi dari awal dengan semangat baru.
Berikut foto Towanda.

Towanda mengaku dia kerap iri dengan kesuksesan kakaknya, Toni. Begitu pula dengan kedua saudarinya yang lain, Trina dan Tamar. Dia juga kesal dengan sikap Traci yang begitu saja keluar dari The Braxtons dan (menurutnya) tidak jujur soal kehamilannya.

Namun, begitu melihat mereka semua tampil di Java Jazz kemarin ... jelas kalau mereka semua sudah kembali rukun. Memang tidak semua orang di Indonesia mengetahui hal ini, makanya saya berbagi. Sayang, saya tidak menemukan foto-foto yang mengabadikan saat mereka bersama di panggung.
Kisah Toni, Traci, Trina, Towanda dan Tamar sebetulnya adalah sebuah kisah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana, at the end of the day, family comes first.
Apalagi mengingat Toni yang beberapa tahun belakangan ini menurun prestasinya. Rasanya senang melihat keluarga Braxtons saling mendukung dengan berbagai cara. Melihat talenta dan mendengar suara mereka yang luar biasa ... tinggal tunggu waktu untuk melihat klan Braxtons kembali berjaya!
Rasanya masih sedikit orang Indonesia yang tahu bahwa sebelum menjadi penyanyi solo, Toni Braxton memulai kariernya sebagai lead vocal grup The Braxtons. Di luar Toni, grup ini terdiri dari empat adik-adiknya: Traci, Trina, Towanda dan Tamar.
Mereka merilis lagu The Good Life pada tahun 1990. Lagu itu tidak menjadi hits, namun suara alto Toni menarik perhatian Antonio "L.A." Reid dan Babyface sendiri. Sayangnya, saat itu LaFace Records yang didirikan L.A. Reid dan Babyface sudah punya grup vokal TLC. Toni pun menandatangi kontrak sebagai penyanyi solo pertama di label tersebut.

Sebuah reuni kecil sebetulnya pernah terjadi. Ketika Toni mengeluarkan video untuk lagunya Seven Whole Days, adik-adiknya muncul sebagai penyanyi latar.
Pada tahun 1996, Trina, Towanda dan Tamar mengeluarkan album berjudul So Many Ways. Traci yang saat itu tengah hamil mengundurkan diri dari grup vokal itu. So Many Ways antara lain menampilkan kebolehan The Braxtons membawakan ulang lagu Diana Ross berjudul The Boss.
Grup ini akhirnya bubar ketika Tamar yang mampu bernyanyi dengan whistle register ala Mariah Carey dan Shanice memutuskan untuk bersolo karier. Tamar memang tidak sesukses kakaknya, Toni. Namun dirinya dikenal sebagai penyanyi klub yang cukup diakui, walaupun tidak memiliki hits.
Trina memilih jalur yang sedikit berbeda. Dia tampil di beberapa panggung broadway dan drama musikal seperti pada tahun 2004. Ia tampil di Meet the Browns karya Tyler Perry.
Akhirnya, kedua adik Toni ini membantu kakaknya sebagai penyanyi latar. Mereka sering terlihat hadir mendukung Toni saat manggung. Termasuk ketika Toni Braxton konser di Jakarta kemarin. Kehadiran Tamar yang sekilas mirip dengan Toni sempat membuat penonton heboh. Mereka mengira Toni yang muncul. Belakangan mereka baru sadar bahwa itu adalah penyanyi latar. :)
Berikut foto Tamar dan kakaknya, Toni.

Towanda yang sering merasa seperti black sheep di antara kelima saudarinya, muncul di serial Starting Over season 2. Reality show ini adalah sebuah acara dimana perempuan yang pernah merasa gagal di dalam hidupnya memulai lagi dari awal dengan semangat baru.
Berikut foto Towanda.

Towanda mengaku dia kerap iri dengan kesuksesan kakaknya, Toni. Begitu pula dengan kedua saudarinya yang lain, Trina dan Tamar. Dia juga kesal dengan sikap Traci yang begitu saja keluar dari The Braxtons dan (menurutnya) tidak jujur soal kehamilannya.

Namun, begitu melihat mereka semua tampil di Java Jazz kemarin ... jelas kalau mereka semua sudah kembali rukun. Memang tidak semua orang di Indonesia mengetahui hal ini, makanya saya berbagi. Sayang, saya tidak menemukan foto-foto yang mengabadikan saat mereka bersama di panggung.
Kisah Toni, Traci, Trina, Towanda dan Tamar sebetulnya adalah sebuah kisah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana, at the end of the day, family comes first.
Apalagi mengingat Toni yang beberapa tahun belakangan ini menurun prestasinya. Rasanya senang melihat keluarga Braxtons saling mendukung dengan berbagai cara. Melihat talenta dan mendengar suara mereka yang luar biasa ... tinggal tunggu waktu untuk melihat klan Braxtons kembali berjaya!
Senin, 01 Maret 2010
Letter: Learning from `2012'
Letter: Learning from `2012'
Wed, 12/02/2009 2:09 PM | Reader's Forum
While many eyes of Indonesians have been startled by the ongoing news about the KPK case, another story made me raise my eyebrows: the recent call by clerics from the Indonesian Ulema Council (MUI) to ban the doomsday-themed movie 2012. In my humble opinion, the call to prohibit the movie only based on rumor is controversial. Although this is not the first time it has made controversial decisions.
Several days ago, my friend and I decided to watch the movie. Afterwards, we had different reviews: I was slightly bored by the use of "the end of days" related theme while my friend thought the movie was entertaining. However, we both agreed the movie had amazing special effects.
To put it briefly, the movie tells us the story of a situation in 2009 where scientists found a number of occurrences showing the end of the world was near. Before that, the Mayans had predicted that 2012 would be the last days of earth. The movie narrates how the people struggle to survive on the so-called doomsday.
There is one scene that many believed initiated the MUI's decision to ban the movie: the scene that showed a mosque destroyed by an earthquake. Furthermore, MUI chief KH Mahmud Zubaidi in Malang mentioned that doomsday is something that "no man could predict" and "the movie is not appropriate because it could affect people's way of thinking."
In my opinion, however, this is not the case. The call by MUI has officially underestimated Muslims in Indonesia who can differentiate between fact and fiction. The movie itself was enjoyable and there are many things we can learn from the movie. Yes, there are no people who can predict the end of the world. The movie nonetheless did not explicitly mean to tell us when the end of the world is. It is only to show us what may occur if doomsday arrives.
The Mayans arguably never predicted anything about the doomsday. The speculation arises because their calendar stops at 2012. Therefore, the reckoning appears due to a loose interpretation about the calendar rather than the Mayans' prophecy. Ironically, the council's verdict has provided the movie with free publicizing. For instance, Twitter has mentioned many times that MUI should not ban the movie. Many Tweets (a post on Twitter) even ridiculed MUI by saying that they should focus on other issues rather than ban the Hollywood movie.
Finally, I think it is time for MUI to start believing in the ability of Indonesian Muslims to decipher fact from fiction. The fact is that MUI's actions lead society to see them negatively. The problem that needs to be solved is not banning the movie. What we should understand more is how society sees the movie.
Perhaps, we feel insecure about entering judgment day due to the many terrible things we have done in the past. Thus, the case is not about what movie says, but how we see ourselves reflected in the movie's plot.
Amahl S. Azwar
Jakarta
(Retrieved from: http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/02/letter-learning-2012039.html )
Wed, 12/02/2009 2:09 PM | Reader's Forum
While many eyes of Indonesians have been startled by the ongoing news about the KPK case, another story made me raise my eyebrows: the recent call by clerics from the Indonesian Ulema Council (MUI) to ban the doomsday-themed movie 2012. In my humble opinion, the call to prohibit the movie only based on rumor is controversial. Although this is not the first time it has made controversial decisions.
Several days ago, my friend and I decided to watch the movie. Afterwards, we had different reviews: I was slightly bored by the use of "the end of days" related theme while my friend thought the movie was entertaining. However, we both agreed the movie had amazing special effects.
To put it briefly, the movie tells us the story of a situation in 2009 where scientists found a number of occurrences showing the end of the world was near. Before that, the Mayans had predicted that 2012 would be the last days of earth. The movie narrates how the people struggle to survive on the so-called doomsday.
There is one scene that many believed initiated the MUI's decision to ban the movie: the scene that showed a mosque destroyed by an earthquake. Furthermore, MUI chief KH Mahmud Zubaidi in Malang mentioned that doomsday is something that "no man could predict" and "the movie is not appropriate because it could affect people's way of thinking."
In my opinion, however, this is not the case. The call by MUI has officially underestimated Muslims in Indonesia who can differentiate between fact and fiction. The movie itself was enjoyable and there are many things we can learn from the movie. Yes, there are no people who can predict the end of the world. The movie nonetheless did not explicitly mean to tell us when the end of the world is. It is only to show us what may occur if doomsday arrives.
The Mayans arguably never predicted anything about the doomsday. The speculation arises because their calendar stops at 2012. Therefore, the reckoning appears due to a loose interpretation about the calendar rather than the Mayans' prophecy. Ironically, the council's verdict has provided the movie with free publicizing. For instance, Twitter has mentioned many times that MUI should not ban the movie. Many Tweets (a post on Twitter) even ridiculed MUI by saying that they should focus on other issues rather than ban the Hollywood movie.
Finally, I think it is time for MUI to start believing in the ability of Indonesian Muslims to decipher fact from fiction. The fact is that MUI's actions lead society to see them negatively. The problem that needs to be solved is not banning the movie. What we should understand more is how society sees the movie.
Perhaps, we feel insecure about entering judgment day due to the many terrible things we have done in the past. Thus, the case is not about what movie says, but how we see ourselves reflected in the movie's plot.
Amahl S. Azwar
Jakarta
(Retrieved from: http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/02/letter-learning-2012039.html )
Langganan:
Postingan (Atom)