Sabtu, 13 Maret 2010

Reuni Kecil Toni Braxton dan Adik-adiknya di Java Jazz International 2010

Sesuatu yang menarik terjadi saat Toni Braxton mengadakan konser Sabtu (6/3) kemarin di JJF 2010. Selain mengundang Kenneth "Babyface" Edmonds menyanyikan satu lagu berjudul "Whip Appeal", Toni mengajak saudarinya Towanda Braxton untuk bernyanyi bersamanya. Bersama dua saudari Braxton lainnya, Trina dan Tamar, Towanda menyanyikan cuplikan lagu En Vogue berjudul "My Lovin' (Never Gonna Get It)".

Rasanya masih sedikit orang Indonesia yang tahu bahwa sebelum menjadi penyanyi solo, Toni Braxton memulai kariernya sebagai lead vocal grup The Braxtons. Di luar Toni, grup ini terdiri dari empat adik-adiknya: Traci, Trina, Towanda dan Tamar.

Mereka merilis lagu The Good Life pada tahun 1990. Lagu itu tidak menjadi hits, namun suara alto Toni menarik perhatian Antonio "L.A." Reid dan Babyface sendiri. Sayangnya, saat itu LaFace Records yang didirikan L.A. Reid dan Babyface sudah punya grup vokal TLC. Toni pun menandatangi kontrak sebagai penyanyi solo pertama di label tersebut.



Sebuah reuni kecil sebetulnya pernah terjadi. Ketika Toni mengeluarkan video untuk lagunya Seven Whole Days, adik-adiknya muncul sebagai penyanyi latar.

Pada tahun 1996, Trina, Towanda dan Tamar mengeluarkan album berjudul So Many Ways. Traci yang saat itu tengah hamil mengundurkan diri dari grup vokal itu. So Many Ways antara lain menampilkan kebolehan The Braxtons membawakan ulang lagu Diana Ross berjudul The Boss.

Grup ini akhirnya bubar ketika Tamar yang mampu bernyanyi dengan whistle register ala Mariah Carey dan Shanice memutuskan untuk bersolo karier. Tamar memang tidak sesukses kakaknya, Toni. Namun dirinya dikenal sebagai penyanyi klub yang cukup diakui, walaupun tidak memiliki hits.

Trina memilih jalur yang sedikit berbeda. Dia tampil di beberapa panggung broadway dan drama musikal seperti pada tahun 2004. Ia tampil di Meet the Browns karya Tyler Perry.

Akhirnya, kedua adik Toni ini membantu kakaknya sebagai penyanyi latar. Mereka sering terlihat hadir mendukung Toni saat manggung. Termasuk ketika Toni Braxton konser di Jakarta kemarin. Kehadiran Tamar yang sekilas mirip dengan Toni sempat membuat penonton heboh. Mereka mengira Toni yang muncul. Belakangan mereka baru sadar bahwa itu adalah penyanyi latar. :)

Berikut foto Tamar dan kakaknya, Toni.



Towanda yang sering merasa seperti black sheep di antara kelima saudarinya, muncul di serial Starting Over season 2. Reality show ini adalah sebuah acara dimana perempuan yang pernah merasa gagal di dalam hidupnya memulai lagi dari awal dengan semangat baru.

Berikut foto Towanda.



Towanda mengaku dia kerap iri dengan kesuksesan kakaknya, Toni. Begitu pula dengan kedua saudarinya yang lain, Trina dan Tamar. Dia juga kesal dengan sikap Traci yang begitu saja keluar dari The Braxtons dan (menurutnya) tidak jujur soal kehamilannya.




Namun, begitu melihat mereka semua tampil di Java Jazz kemarin ... jelas kalau mereka semua sudah kembali rukun. Memang tidak semua orang di Indonesia mengetahui hal ini, makanya saya berbagi. Sayang, saya tidak menemukan foto-foto yang mengabadikan saat mereka bersama di panggung.

Kisah Toni, Traci, Trina, Towanda dan Tamar sebetulnya adalah sebuah kisah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana, at the end of the day, family comes first.

Apalagi mengingat Toni yang beberapa tahun belakangan ini menurun prestasinya. Rasanya senang melihat keluarga Braxtons saling mendukung dengan berbagai cara. Melihat talenta dan mendengar suara mereka yang luar biasa ... tinggal tunggu waktu untuk melihat klan Braxtons kembali berjaya!

Senin, 01 Maret 2010

Letter: Learning from `2012'

Letter: Learning from `2012'

Wed, 12/02/2009 2:09 PM | Reader's Forum

While many eyes of Indonesians have been startled by the ongoing news about the KPK case, another story made me raise my eyebrows: the recent call by clerics from the Indonesian Ulema Council (MUI) to ban the doomsday-themed movie 2012. In my humble opinion, the call to prohibit the movie only based on rumor is controversial. Although this is not the first time it has made controversial decisions.

Several days ago, my friend and I decided to watch the movie. Afterwards, we had different reviews: I was slightly bored by the use of "the end of days" related theme while my friend thought the movie was entertaining. However, we both agreed the movie had amazing special effects.

To put it briefly, the movie tells us the story of a situation in 2009 where scientists found a number of occurrences showing the end of the world was near. Before that, the Mayans had predicted that 2012 would be the last days of earth. The movie narrates how the people struggle to survive on the so-called doomsday.

There is one scene that many believed initiated the MUI's decision to ban the movie: the scene that showed a mosque destroyed by an earthquake. Furthermore, MUI chief KH Mahmud Zubaidi in Malang mentioned that doomsday is something that "no man could predict" and "the movie is not appropriate because it could affect people's way of thinking."

In my opinion, however, this is not the case. The call by MUI has officially underestimated Muslims in Indonesia who can differentiate between fact and fiction. The movie itself was enjoyable and there are many things we can learn from the movie. Yes, there are no people who can predict the end of the world. The movie nonetheless did not explicitly mean to tell us when the end of the world is. It is only to show us what may occur if doomsday arrives.

The Mayans arguably never predicted anything about the doomsday. The speculation arises because their calendar stops at 2012. Therefore, the reckoning appears due to a loose interpretation about the calendar rather than the Mayans' prophecy. Ironically, the council's verdict has provided the movie with free publicizing. For instance, Twitter has mentioned many times that MUI should not ban the movie. Many Tweets (a post on Twitter) even ridiculed MUI by saying that they should focus on other issues rather than ban the Hollywood movie.

Finally, I think it is time for MUI to start believing in the ability of Indonesian Muslims to decipher fact from fiction. The fact is that MUI's actions lead society to see them negatively. The problem that needs to be solved is not banning the movie. What we should understand more is how society sees the movie.

Perhaps, we feel insecure about entering judgment day due to the many terrible things we have done in the past. Thus, the case is not about what movie says, but how we see ourselves reflected in the movie's plot.

Amahl S. Azwar
Jakarta

(Retrieved from: http://www.thejakartapost.com/news/2009/12/02/letter-learning-2012039.html )

Kamis, 25 Februari 2010

The Fabulous Fifteen: My Favourite Books of All Time


The Fabulous Fifteen: My Favourite Books of All Times
tadinya adalah salah satu Notes saya di Facebook. Namun, saya tertarik untuk menaruhnya di blog saya. Sekadar untuk berbagi mengenai buku-buku yang saya sukai secara personal. Tentu saja tidak semua buku yang saya sukai ada di daftar ini. For example, Harry Potter. I choose not to put the series simply because all of my friends already known me for being a Harry Potter fan. So I guess, saya akan berikan saja beberapa buku fiksi dan non-fiksi yang akan selalu menjadi favorit saya dan jarang saya sebutkan di dunia maya.



1. Nothing Last Forever - Sidney Sheldon






Yup, ini adalah buku (tebal) pertama yang saya baca. Waktu itu saya masih kelas 5 SD, kalau tidak salah. Buku ini saya temukan tergeletak di kamar Ayah saya yang kebetulan koleksi bukunya memang luar biasa (walau saya belum baca semua). Kisahnya bagus, tentang tiga dokter wanita yang memulai karier di sebuah Rumah Sakit. Pada awal cerita kita akan menyangka bahwa sosok ketiganya begitu sempurna: kita keliru. Membaca buku ini saya kerap mengeluarkan komentar seperti "Oh, begitu toh" dan "Loh, kok enggak nyangka, ya?" berkali-kali. Mungkin buku ini adalah buku pertama yang membuat saya jadi suka membaca fiksi.

2. Veronika Decides to Die - Paulo Coelho





Salah satu sahabat saya, Hugo, memperkenalkan karya-karya Paulo Coelho kira-kira pada tahun pertama kami berkuliah. Sebetulnya sih saya suka hampir semua karya Paulo Coelho, kecuali yang saya belum baca (hehe). Tapi masa iya list ini isinya Paulo Coelho semua, jadi saya memilih buku Veronika Decides to Die--buku favorit saya. Sebagai orang yang terkadang punya kecenderungan untuk menjadi suicidal, buku ini membuat saya menjadi lebih menghargai hidup. He's a genuinely genius writer, Coelho.

3. Five People You Meet in Heaven - Mitch Albom





Hugo juga yang memperkenalkan saya kepada Mitch Albom. Menurut saya karya beliau yang paling patut dikoleksi adalah buku ini. Ceritanya cukup simpel. Mengenai bagaimana seorang lansia yang mantan tentara menjalankan kehidupan membosankan sebagai teknisi taman hiburan. Kakinya tertembak saat berada di medan perang, istrinya meninggal terlebih dahulu dan masa kecilnya dihiasi dengan sosok ayah yang cukup abusive dan bersikap dingin padanya. Sebuah kecelakaan di taman hiburan membuatnya kehilangan nyawa. Di Surga, dia bertemu lima orang yang masing-masing memberinya pelajaran akan hidup yang dia lalui. Versi dunia akhirat yang sangat manis, menurut saya. Senang rasanya bisa membaca opini baru tentang konsep "akhirat". Ketika banyak orang berkoar-koar tentang pahala dan dosa yang akan ditimbang dalam akhirat, buku ini menawarkan sebuah pandangan baru: mengapa kita hidup? It's great. It's really really great. Simple, but great.

4. Filosofi Kopi - Dewi "Dee" Lestari



Sama seperti Paulo Coelho, saya juga menyukai semua karya Dee. Termasuk Perahu Kertas yang nampaknya membuat beberapa teman saya komplain karena terlalu "berbeda" dengan novel-novel Dee sebelumnya. Ah well, kalau saya harus memilih satu saja buku Dee yang saya favoritkan, itu adalah Filosofi Kopi. Buku ini menunjukkan bahwa Dee cukup versatile sebagai seorang penulis. Mulai dari kisah 5 sahabat dan peran mereka masing-masing ("Buddha Bar"), filosofi kopi tiwus ("Filosofi Kopi"--buku ini yang menginspirasikan saya untuk mencoba jadi barista), fabel tentang kecoak ("Rico de Coro"), rasa penasaran yang berbuah tragedi dan penyesalan ("Mencari Herman") dan beberapa puisi serta prosa. Kumpulan cerpen dan prosa satu dekade ini bagaikan sebuah cikal bakal yang menunjukkan bahwa Dee tidak hanya lihai menulis cerita seperti Supernova saja. Kendati demikian, semua tulisan yang ada di dalam buku ini tetap "sangat Dee".

5. 9 dari Nadira - Leila S. Chudori



Menurut saya karya Leila S. Chudori ini cukup orisinil. Sebuah perpaduan antara kumpulan cerpen dan novel. Bisa dibilang novel karena sebetulnya semua kisah yang ada berpangkal kepada satu orang: Nadira, seorang jurnalis yang pada suatu ketika menemukan ibunya meninggal karena bunuh diri. Bisa juga dibilang kumpulan cerpen karena ada 9 kisah yang tidak melulu diceritakan dari sudut pandang Nadira--walaupun beliau tetap tokoh sentral cerita. Ada seorang ilustrator majalah yang diam-diam mengagumi Nadira tapi hanya bisa mengekspresikan perasaannya via sketsa, kakak sulung Nadira yang sampai harus rajin ikut terapi karena rasa bersalahnya kepada Nadira sampai jurnal almarhumah Ibu Nadira pada masa muda. Ilustrasi-ilustrasi Ario Anindito yang indah dan komunikatif dengan isi cerita membuat buku ini semakin layak untuk dikoleksi.

6. Rekonsiliasi: Islam, Demokrasi dan Barat - Benazir Bhutto



Rasanya saya tidak mungkin tidak memasukkan buku ini dalam list saya. Saya langsung jatuh hati pada Benazir Bhutto setelah dia menulis buku ini. Kemampuan dia untuk membuat deduksi mengenai bagaimana seharusnya Islam, Demokrasi dan Barat bisa saling menunjang betul-betul luar biasa. Perempuan berjilbab hijau ini benar-benar mampu menangkis semua pandangan 'dangkal' tentang Islam (baik pandangan dari dunia barat maupun dari kaum ekstrimis).

7. Perfume - Patrick Süskin



Perasaan saya campur aduk membaca buku ini. Di satu sisi saya mengagumi bakat Jean-Baptiste Grenouille tentang dunia aroma (apa itu istilah yang tepat?). Di sisi lain, saya juga merasa bahwa Grenouille terlalu sadis--walaupun dia mungkin tidak mengerti yang dia lakukan itu sadis. Satu hal yang saya suka dari Patrick Süskin adalah dia tidak segan untuk menceritakan dengan detail apa yang terjadi pada orang-orang yang telah ditemui Grenouille. Bahkan dia mengajak pembaca untuk ikut meresapi apa yang terjadi kepada mereka (yang rata-rata berakhir tragis) dengan alasan "karena kita tidak akan bertemu dengan mereka lagi, ada baiknya kita mengetahui bagaimana akhir hidup mereka."

8. The Interpretation of Murder - Jed Rubenfeld



Menampilkan cameo dari Sigmund Freud dan Carl Jung, Jed Rubenfeld mengisahkan tentang Dr. Stratham Younger yang melakukan analisis terhadap sebuah kasus pembunuhan dengan analisis psikologis terhadap Nora Acton, salah satu korban yang selamat. Dengan bimbingan dari Freud, Younger akhirnya menemukan bahwa sang pembunuh ternyata adalah .... ya, silahkan baca sendiri. *menghindari timpukan*

9. The Devil Wears Prada - Lauren Weisberger




Saya adalah seorang pembohong besar kalau saya bilang tidak menyukai buku ini. The Devil Wears Prada mengisahkan tentang seorang sarjana baru lulus bernama Andy Sachs yang mendapatkan pekerjaan sebagai asisten Miranda Priestly, editor majalah fashion nomor satu di Amerika, Runway. Kisahnya berlanjut mengenai perjuangannya untuk memenuhi keinginan luar biasa bos seperti membeli kopi Starbucks yang sudah dipermak sana-sini, mencari buku Harry Potter yang belum diterbitkan dll. Overall, walaupun masih terkesan chicklit, buku ini menceritakan mengenai bagaimana sulitnya dunia kerja bagi mereka yang baru lulus. Itu dan cara Weisberger menceritakan kisah-kisah perjuangan Andy Sachs cukup menghibur--terkadang sarkastik.


10. Introduction to Political Psychology - Martha Cottam, Beth Dietz-Uhler, Elena M. Mastors & Thomas Preston




Ya, sebelum anda mengantuk karena saya membawa buku dari rak buku kuliah saya, saya akan cepat saja. Buku non-fiksi ini menganalisis mengenai bagaimana pola masyarakat berpikir. Menarik memang, karena ada pembahasan mengenai karakter-karakter tertentu dari seorang kandidat pemilu misalnya, yang walaupun sebetulnya kapasitasnya tidak sebaik lawan politiknya, tapi mampu menggaet hati masyarakat yang berakhir pada kemenangan kandidat tersebut. Menarik. Saya sih berharap suatu saat nanti akan ada mata kuliah "Psikologi Politik Internasional" di kampus saya.

11. A Voice for a Just Peace - Ali Alatas



Kumpulan pidato-pidato almarhum Ali Alatas, seorang diplomat senior ulung yang kerap diandalkan oleh Indonesia. Rasanya senang melihat bagaimana beliau mampu menggaet simpati dengan cara berpidatonya. Salah satu kutipan yang paling saya suka adalah "a diplomat job is never ends".

12. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja - Larry King




Larry King adalah salah satu ahli berbicara di dunia. Di dalam buku ini dia memberikan tips, analisis serta ilustrasi beberapa presenter lain dan mengajak pembaca untuk lebih percaya diri dalam berbicara. Baik itu untuk pidato resmi maupun percakapan sehari-hari, Larry King menjelaskan bahwa siapa pun bisa berbicara asal mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Buku ini bagi saya adalah bacaan wajib bagi mereka yang membutuhkan tips dalam berkomunikasi dengan orang lain.


13. Mythical Creatures Bible: The Definitive Guide to Beasts and Beings from Mythology and Folklore (Godsfield Bible Series) - Brenda Rosen




Mulai dari Harpy, Bouraq sampai berbagai macam makhluk di dalam mitologi seluruh dunia dirangkum dalam buku ini. Brenda Rosen mampu mengilustrasikan masing-masing makhluk dengan bahasa singkat namun informatif. Buku yang menarik untuk dibaca bagi mereka yang menyukai mitologi, dongeng dll. Ilustrasi visualnya juga bagus! Mereka yang sedang berada di dalam proyek menulis cerita anak atau sekedar menyukainya patut membaca buku ini sebagai referensi.

14. Good Lawyer - Zara Zettira ZR, Rose Heart dan Rose Heart Writers




Kumpulan cerita hukum Indonesia ini hadir ketika banyak sekali orang yang meragukan kemampuan penulisan seorang blogger. Terlebih lagi, rasa awareness masyarakat akan hukum yang seakan kurang. Mencampurkan fiksi dan hukum rasanya masih jarang dilakukan oleh penulis Indonesia. Maka buku yang ditulis secara "keroyokan" ini mampu menghadirkan suasana hukum di dalam kisah fiksinya. Mulai dengan yang bernada jenaka ala serial Boston Legal sampai yang lebih serius ala Law and Order. Sumbangan cerita dari Zara Zettira ZR di awal buku merupakan pembukaan yang manis bagi para pembaca untuk membacanya sampai habis.

15. He's Just Not That Into You - Greg Behrendt and Liz Tuccillo




Saya menutup daftar ini dengan buku yang membuat saya tertawa. Ya, He's Just Not That Into You mungkin lebih terkenal dalam versi film yang antara lain diperankan oleh Jennifer Aniston, Scarlet Johansson dan Drew Barrymore. Sebetulnya istilah "He's Just Not That Into You" dimulai dari percakapan antara Greg Behrendt dan staf penulis serial Sex and The City. Salah satu anggota perempuan tim penulis itu *curhat* tentang seorang pria yang tidak memberikan respons terhadapnya. Ketika tim lain mengatakan bahwa "mungkin dia terlalu terintimidasi denganmu" atau "beri saja dia waktu", Greg Behrendt dengan lugas mengatakan "Look, maybe he's just not that into you". Yang akhirnya menjadi premis salah satu episode Sex and The City yang berlanjut ke sebuah film berjudul sama dan akhirnya berakhir pada buku ini. Buku ini bercerita tentang berbagai "excuse" yang diberikan perempuan terhadap pasangannya yang semua "ditangkis" oleh Greg Behrendt. Liz Tuccillo berperan sebagai penengah dan memberikan input terhadap para perempuan yang ada. Buku ini adalah salah satu buku yang sangat pas bagi mereka yang merasa cintanya ditolak. Buku ini menjelaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sepadan dan mengajak pembaca untuk berpikir rasional dan berhenti menyakiti diri sendiri. Cool.

Perhaps beberapa dari anda mungkin akan berpikir bahwa buku-buku yang saya baca cukup bervariasi. Well, itu karena saya merasa tidak perlu ada pakem atau membuat kotak-kotak terhadap selera orang :). Semoga beberapa buku yang saya cantumkan di sini bisa berguna. Tentu saja saya juga ingin mendengar buku-buku apa yang anda favoritkan. Buku adalah jendela dunia? You betcha!

Kamis, 28 Januari 2010

Koper LV, Uang Monopoli dan Kaca Mobil.


Hari ini adalah hari yang luar biasa bagiku. Aku menemukan sebuah koper teronggok di paving block belakang rumah. Beberapa menit sebelumnya, aku (yang sedang ingin merenung) menyangka bahwa hari ini adalah hari yang biasa. Aku menyenandungkan bait reff lagu Chasing Pavements dari Adele. Bersamaan dengan lantunan lirik lagu itu, aku berpikir: Bagaimana kalau aku membanting pintu saja terhadap semua hal sebelum semua hal membanting pintu di depanku?

Namun, benar kata seorang ahli self-healing dengan metode menulis bernama Sally Matahira. Belakangan, aku baru tahu bahwa Sally menginjak usia ke-27 pada tanggal 27 Januari. Sally pernah berkata bahwa hidup itu selalu memberikan petunjuk akan semua hal, layaknya rambu lalu-lintas. Apabila kita tidak melihatnya? Berarti, kaca jendela mobil kita yang buram. Ah, semua ini membuatku kangen pada si Kuda Catur yang memberikanku filosofi hidup. Yang aku dengar, saat ini dia berada di Bali.

Kutatap kembali koper lusuh di depanku itu. Sempat mata menangkap logo buram menjadi motif koper secara keseluruhan: LV. Kemudian aku menyadari dari sekian banyak kertas yang tersembul dari koper itu bahwa koper itu penuh berisi dengan uang. Kebetulan! Aku memang membutuhkan petualangan. Petualangan mencari Kuda Catur. Kuraih pegangan koper dan kuangkat. Aku ingin membawanya ke rumah, menghitungnya dan mulai merencanakan petualanganku.

Begitu sampai di kamar, aku membuka koper itu. Sudah tak sabar aku ingin menghitung uangnya. Namun ... Apakah kau pernah hendak menaiki anak tangga namun tiba-tiba anak tangga itu lenyap? Sensasi perasaan itu terjadi padaku.

Hatiku mencelos. Karena ternyata semua lembaran yang ada di dalam koper itu adalah lembaran yang lazim kau temukan ketika kita bermain monopoli. Aku ingin marah. Ingin rasanya aku membakar semua uang itu dan memecahkan rekor MURI karenanya. Aku frustasi. Bagaimana tidak? Gambar-gambar I Gusti Ngurah Rai mengedipkan mata ... Gambar Soekarno-Hatta memakai pakaian drag queen. Sekali lagi aku menjadi bahan humor lawakan semesta. Ada apa ini?

Baru saja aku hendak menebak apakah ini adalah awal dari petualangan ...

"Nak?"

Aku tersentak. Itu suara ibuku.

"Hentikanlah dulu permainan RPG-mu itu. Ayo, sudah saatnya makan malam."

Aku mematikan komputer setelah mengucapkan selamat tinggal kepada si koper LV. Sally Matahira benar. Aku sudah harus mencuci kaca depan mobilku.


Bandung, 23 Januari 2010.


Catatan Penulis:
Sally Matahira adalah parodi penulis untuk Sundea Belaka, penulis Salamatahari. Tulisan ini dibuat pada pertemuan kesekia
n Reading Lights Writer's Circle yang difasilitasi oleh Andika Budiman. Ah, dan yang berulang tahun pada tanggal 27 Januari adalah Nia Janiar. Usianya bukan 27, kok.

Senin, 09 November 2009

Kacamata




Syahdan, sebuah toko buku kecil di sudut Siliwangi ada satu sosok yang duduk di sofa mungil. Pandangan sosok itu menerawang. Dia membetulkan letak kacamatanya sambil menggaruk-garuk belahan bibir. Setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk melepas kacamatanya itu. Dipandanginya bentangan pohon-pohon yang dapat terlihat dari jendela di balik sofa. Semua daun di pohon tersebut nampak buram. Seolah berada di dalam bidikan lensa kamera DSLR Canon yang tidak fokus.

Apabila ada sebelum, ada pula sesudah. Kini dia kembali memasang kacamatanya itu. Dipejamkannya mata sejenak untuk kemudian melihat bentangan pohon-pohon yang sama dari jendela di balik sofa. Dia merasakan sensasi perubahan. Sekarang pohon-pohon itu memiliki daun yang begitu hijau dan terang. Sensasi nikmat yang dirasakannya setelah memakai kacamata begitu terasa.

Tangannya kini meraih benda mungil di atas peti meja kayu. Jemarinya menari memencet tombol-tombol mengetikkan sesuatu. Sesuatu untuk dikirimkan ke dalam ponsel seseorang di salah satu sudut Kota Jakarta.

Dia menulis: "Apabila mencintai seseorang dapat diibaratkan dengan memakai kacamata. Then, you are my glasses. With you, the trees looks brighter. With you, the leaves looks greener. And my eyes feels so much better."

12 digit nomor pemilik ponsel itu diketik sudah. Satu tombol "OK"ditekan untuk mengirimkan surat elektronik itu teriring ucapan Godspeed. Sementara orang menunggu dengan cemas apakah surat itu akan mendapatkan balasan, Dia memilih untuk tersenyum.

Dia telah belajar untuk melepaskan. Mencintai cinta itu sendiri tanpa rasa takut yang berakar dari rasa ego. Dikembalikannya benda mungil itu pada letaknya semula. Adalah secangkir cokelat hitam putih dengan Yin Yang Chocolate yang diseruputnya sambil memandang pohon-pohon dari jendela di balik sofa. Dia merasa sejuk: jiwa, raga dan fikiran. Dia tersenyum. Memamerkan giginya yang teroleskan selaput cokelat hitam putih.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Kuda Catur




Saya terkadang memiliki satu kebiasaan untuk mengamati hal-hal yang unik dan berbeda dengan hal-hal pada umumnya. Hal-hal yang memiliki ciri khas dan mampu menerobos hal-hal yang belum tentu bisa dilakukan hal-hal lain. Salah satu contoh akan hal tersebut salah satunya saya temukan dalam permainan favorit saya ketika masih kecil dulu: Catur. Ya, Catur menjadi permainan menarik bagi saya dan kedua sepupu saya pada saat itu. Padahal, ketika kami menginjak bangku SD, permainan catur seharusnya diganti dengan permainan video game seperti Playstation, Nintendo dsb.


Layaknya fans sebuah cabang olahraga yang memiliki seorang olahragawan idola, pastinya kami memiliki bidak-bidak catur yang menjadi favorit. Sepupu-sepupu saya selalu memilih Ratu sebagai bidak catur favorit-nya. Mungkin karena superioritasnya sebagai bidak catur yang paling kuat. Kendati demikian, bidak catur yang selalu menjadi favorit saya berbeda dengan mereka: The Knight-Kuda. Mengapa demikian?

Kuda tidak seperti Ratu (atau yang kerap disebut Perdana Menteri) yang memiliki jangkauan seolah tidak terbatas. Ratu dapat bergerak baik secara horisontal, vertikal maupun diagonal. Kuda hanya bisa berjalan membentuk huruf "L". Namun, justru langkah Kuda tersebut yang menjadikannya unik dan lain daripada yang lain.





Kuda juga memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh bidak-bidak catur lain, bahkan Ratu. Kuda memiliki kemampuan untuk "meloncat". Ya, "meloncat". Gerakan Kuda Catur sangat flexibel dan berbeda dengan bidak catur lain yang harus "memakan" bidak catur lain yang menghalangi jalan mereka. Hal inilah yang membuat keberadaan Kuda Catur begitu diandalkan di dalam permainan catur itu sendiri. Kuda Catur bisa menembus barikade yang belum tentu bisa dilewati oleh punggawa-punggawa catur lainnya.

Saya mengagumi konsep Kuda Catur di dalam permainan catur itu tersendiri. Seolah keterbatasan yang sekian diimbangi pula dengan kelebihan yang sepadan. Seperti kuda catur, ada banyak hal yang berbeda dan unik di dalam cerita kehidupan. Itulah indahnya hidup. Individu belajar untuk bisa menjadi spesial, sama spesialnya seperti
kuda Catur.

Kuda Catur, teruslah "meloncat"! :)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Selamat Ulang Tahun




Dear 15 Years old Mahel
at
SMU Taruna Bakti, kelas 1 A, baris pertama, deret kedua.

Hi Mahel! Ya, ini aku, masa depan kamu. Aku adalah diri kamu dalam kurun waktu tujuh tahun dari sekarang. Pada saat surat ini sampai di tangan kamu, kamu sedang berulang tahun yang ke 15 tahun. Jadi, apabila perhitungan kalender aku tidak salah, maka tanggal di waktu-mu adalah 9 Oktober 2002. Jangan kamu pertanyakan dulu mengenai apa alasan surat ini bisa sampai di tangan kamu. Setidaknya berikanlah aku kesempatan untuk memberikan kado ulang tahun yang lebih berharga dari sekedar ucapan "Selamat Ulang Tahun."


Karena kita lebih dekat dari yang engkau tahu, maka izinkanlah aku untuk memanggilmu dengan nama kecil kita berdua "Amal". Amal, hidup itu indah. Aku ingat dan mengerti dengan sangat bahwa ketika kamu membaca surat ini ada satu penyangkalan terhadap pernyataanku barusan. Aku tahu bahwa pilihan kamu untuk bersekolah di tempat itu tampak seperti sebuah kesalahan. Namun, tenanglah. Percayalah bahwa hidup itu indah. Akan ada saat di dalam kehidupan kamu di Taruna Bakti dimana akan kamu sadari bahwa pilihan kamu tidak salah.

Amal, aku tahu bahwa hidup kamu terkesan menyedihkan pada saat kamu membaca surat ini. Namun, ingatlah: kamu harus meneruskan langkah kamu disana. Remember, you have a one of a kind life and you must live that life to the fullest. Aku harus berhenti bercerita sekarang. Kamu masih ingat kan, peraturan para penyihir yang paling utama: "Kita tidak boleh mengubah masa lalu!"

Kendati demikian, aku mengambil resiko mengirim surat ini melalui pintu dimensi waktu yang dijaga oleh Pluto untuk meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku harap kamu akan mengerti maksud dan tujuan dari surat ini. Kamu sekarang aku beri waktu selama 15 menit untuk bersedih hati dan menangisi kepedihan hidupmu di hari ulang tahun mu yang ke-15. Setelah itu? Lanjutkan hidupmu. :)


Selamat ulang tahun!
Amahl S. Azwar, 22 years old.