Sabtu, 16 April 2011

Mereka Bukan Bajak Laut Karibia



(foto diambil dari Reuters)


JANTUNG Kapten Slamet Juari berdegup kencang saat Kapal Sinar Kudus yang ia nakhodai melintasi Laut Arab, pada 16 Maret lalu. Seraya merapal doa, Slamet meneruskan pelayaran kapal yang mengangkut bijih nikel PT Aneka Tambang (Antam) menuju Rotterdam, Belanda
.
"Saya khawatir ketika melewati Teluk Aden. Ada Somalia di bawahnya, kami dengar banyak terjadi perompakan di situ," ujar Slamet yang dihubungi Media Indonesia melalui sambungan internasional, beberapa waktu lalu.

"Namun, sudah jalan masa kita mau balik," tutur suami Isyam Yuni Astuti ini.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pukul 10.30 waktu setempat, saat kapal milik PT Samudera Indonesia itu berada 400 mil di atas Somalia, dua speedboat turun dari kapal ikan. Sadar akan bahaya yang mengancam, Slamet dan 19 anak buah kapal (ABK) WNI lainnya berupaya menghindar dan bergerak ke utara. Namun, kapal lainnya sudah menghadang laju Sinar Kudus. Berondongan AK-47 pun terus menghujam bagian dermaga kapal.

"Kayak di film-film saja. Hanya dalam waktu 5 atau 10 menit, empat orang di speedboat pertama naik ke kapal menggunakan tangga yang bisa dipanjangkan. Mereka minta agar kapal dihentikan dan kami pun menyerah.
Kami sudah mencoba, tetapi apa artinya melawan senjata otomatis."

Hari-hari penyanderaan bagi Slamet dan ABK lainnya pun dimulai. Awalnya, perlakuan kelompok perompak yang berjumlah 35 orang cukup ketat. Mereka dikumpulkan dalam satu base kapal. Waktu makan digilir dan ke kamar mandi pun diawasi. Kapal Sinar Kudus pun sempat dipakai kawanan pembajak untuk mencari mangsa lain. Mereka berputar-putar sampai ke Laut Arab sebelum akhirnya kembali ke perairan Somalia.

Lambat laun, hubungan baik perompak Somalia maupun kru kapal yang sesama muslim mulai melunak. Satu atau dua pembajak belakangan mulai ikut beribadah bersama WNI di Kapal Sinar Kudus. Salah seorang di antara mereka adalah Mohamed Salah, 38, pemimpin pembajak yang hanya memiliki tinggi 160 sentimeter. Slamet mengatakan Mohamed Salah yang keturunan Somalia-Yaman, tinggal di Arab Saudi, dan sempat menetap di Afghanistan cukup baik memperlakukan para ABK. Keadaan itu dimanfaatkan Slamet dengan memohon belas kasihan kepada para perompak.

"Saya dekati dia, menunjukkan kondisi perut saya yang sakit. Air dan makanan yang semakin menipis. Tolonglah dikurangi uang tebusan itu.
Kami tidak sanggup," tutur Slamet.

Perompak Somalia yang semula menuntut US$2,6 juta (sekitar Rp23 miliar) kemudian naik ke US$3,5 juta, melunak. Mereka menyetujui penurunan jumlah tebusan sampai US$3 juta dengan catatan harus segera ada pernyataan.

Kendati demikian, detik-detik kepastian pembayaran tebusan sempat diwarnai kejengkelan para perompak. Pada Jumat (15/3) pada pukul 11.00 waktu Somalia (15.00 WIB), PT SI mengirim pernyataan kesanggupan membayar tebusan sebesar US$2,8 juta. Padahal, PT SI awalnya menyatakan sepakat atas tuntutan US$3 juta dari bajak laut. Mohamed Salah dkk jengkel dan langsung menaikkan uang tebusan menjadi US$3,050 juta.

Baru pada jam 15.00 waktu Somalia atau 19.00 WIB, PT SI melayangkan pernyataan kesanggupan kompensasi kembali ke US$3 juta. Setelah dibujuk para ABK, perompak Somalia akhirnya menyetujui jumlah tersebut. Otomatis. perlakuan perompak Somalia terhadap para AKB berangsur membaik. Meski pengawasan terhadap sandera masih ketat, komunikasi para bajak laut jauh lebih lunak. Kawanan perompak yang berjumlah 35 orang sebelumnya sering bertengkar satu sama lain. Tingkah mereka sering merisaukan para sandera yang takut jadi sasaran empuk.

"Pagi ini kami dengar mereka berlari-larian dan berlatih senjata, kami sempat sembunyi karena takut. Lalu para perompak bilang 'No problem, kami hanya sedang latihan'. Otomatis, perlakuan mereka membaik," tutur Slamet, Sabtu (16/4).

Saat ini, perompak Somalia yang dipimpin Mohamed Salah tengah menunggu realisasi pengiriman tebusan dari Jakarta. Mereka meminta percepatan pengiriman melalui penerbangan ke salah satu bandara di Dubai, Djibouti, atau Nairobi (Kenya) pekan depan. Adapun penandatangan kesepakatan dari perompak telah dikirim ke PT SI melalui e-mail.

Secara umum kondisi para ABK sendiri mulai membaik. Slamet Riyadi, 58 tahun, ABK yang sempat mengalami diare dan depresi berat malah menangis terharu mendengar kabar kesanggupan PT SI.

"Dia menangis terharu, minimal ada harapan untuk hidup. Sekarang semangat dia terbakar lagi tetapi kita tetap jaga terus. Insya Allah tidak ada apa-apa nantinya," ujar Slamet.

Terorganisasi

Pembajakan di laut sepertinya telah berubah dari fenomena kawasan menjadi bisnis kriminal global. Perompakan terhadap kapal Turki beberapa tahun lalu bisa jadi bukti awal.

"Mereka sering kali menghubungi London dari kapal mereka," ujar Haldun Dincel, general manager perusahaan perkapalan Turki, Yardimci, yang sempat terlibat negosiasi dengan perompak Somalia.

Haldun mengatakan perompak menggunakan telepon satelit yang mereka bawa untuk mengontak para konsultan mereka. London, sambung Dincel, menjadi salah satu pusat yang sering dihubungi pembajak setelah kapal tanker diambil alih. "Setiap hari pemimpin perompak berhubungan dengan orang-orang dari London, Dubai, dan kadang Yaman," ujar Dincel.

Menurut harian The Guardian, setidaknya satu dari empat atau lima kelompok bajak laut terbesar saat ini menggunakan jasa `konsultan' yang berbasis di London untuk memilih target. Pada tiap kasus, seluruh pembajak tahu persis mengenai apa yang diangkut kapal, berapa muatan kargo, serta negara asal kapal tersebut. Konsultan-konsultan ini, menurut Dincel, merupakan orang-orang yang bekerja di dalam industri.

"Mereka tahu tentang kapal, arah kapal, di mana pelabuhan mereka, segalanya. Mereka tahu apa yang mereka lakukan," pungkasnya.

(SZ/BBC/Guardian/ I-5)

Minggu, 03 April 2011

Gadis Jubah Merah dengan Pakem Twilight





"Grandmother, what a big teeth you have?"
"The better to eat you with.
"

MASIH ingat sepotong dialog antara si jubah merah dan serigala hitam yang menyamar sebagai neneknya? Catherine Hardwicke, pelopor seri film Twilight (2008) berupaya menceritakan ulang dongeng asal Benua Eropa sebelum abad ke-17 ini. Lalu, apakah Hardwicke terjebak dalam format remaja ceroboh yang terlibat cinta segitiga dengan vampir tampan dan manusia serigala berbadan model celana dalam Calvin Klein?

Film dibuka dengan lanskap Desa Daggerhorn yang bertaburan salju dan bagaimana remaja putri Valerie (Amanda Seyfried, Mean Girls) mengenang kembali pesan ibunya agar jangan percaya dengan orang asing. Pesan itu ia langgar setelah jatuh cinta kepada penebang kayu Peter (Shiloh Fernandez). Padahal, kedua orang tuanya sudah menjodohkan dirinya dengan Henry (Max Irons), anak pandai besi kaya raya Adrian Lazar (Michael Shanks).

Ajakan Peter agar Valerie kabur bersama dirinya hanya berselang 5 menit sebelum teror serigala kembali menghantui Desa Daggerhorn. Setelah bertahun-tahun tidak ada korban manusia, serigala jadi-jadian kembali membantai korban yang tak lain merupakan kakak kandung Valerie, Lucie (Alexandria Maillot).

Daggerhorn pun kedatangan pendeta garis miring pemburu penyihir Father Solomon (Gary Oldman) yang menuding salah satu warga desa adalah manusia serigala atau setidaknya ikut membantu. Masalah semakin runyam ketika serigala berhasil memojokkan Valerie pada beberapa malam berikutnya. Alih-alih menyerang, Valerie ternyata dapat mengerti geraman-geraman serigala dan bercakap-cakap (masih ingat bagaimana Harry Potter dapat berbincang dengan ular? Seperti itulah).

Perbincangan tersebut membuat Valerie mulai mereka-reka siapa sesungguhnya manusia serigala tersebut. Bisakah Valerie membuka tabir sebelum bulan-bulan merah berakhir? Sementara Father Solomon dengan tangan besi mulai membabi buta dan tidak segan-segan membunuhi warga yang ia curigai menjadi antek-antek serangan serigala.

Freudian

Hardwicke sepertinya ingin keluar dari formula klise ala Twilight. Salah satu referensi yang dipergunakan Hardwicke ialah buku The Uses of Enchantment karya almarhum Bruno Bettelheim, penulis psikologi anak Amerika Serikat. Bettelheim yang menyitir analisis Freudian menilai kisah gadis kecil berjubah merah atau little red riding hood menggambarkan bagaimana dongeng anak mengedukasi pikiran anak-anak. Bettelheim menginterpretasikan motif si pemburu dengan membelah perut serigala dan menyelamatkan si jubah merah sebagai sebuah kesempatan kedua.

"Anak kecil yang dengan bodohnya percaya akan tipu daya serigala dilahirkan kembali sebagai manusia baru," tulis Bettelheim.

Masih ada pula deretan aktor mulai dari Seyfried, bintang 1960-an Julie Christie (The Fast Lady), dan pemeran Sirius Black dalam seri Harry Potter Gary Oldman.

Selain itu, penggambaran karakter gadis jubah merah Valerie juga sangat berbeda dari dongeng masa kecil. Red riding hood yang Anda saksikan adalah seorang perempuan yang sudah mulai dewasa secara seksual. Mungkin ini cara Hardwicke untuk mengakomodasi interpretasi bahwa kisah jubah merah menggambarkan proses akil balig remaja putri.

Jack Zipes dalam esai The Trials and Tribulations of Little Red Riding Hood mengatakan jubah merah dalam dongeng ini dapat disimbolkan sebagai proses menstruasi perempuan. Hutan gelap yang mesti ditembus jubah merah juga dianalogikan sebagai lika-liku remaja putri menuju kedewasaan. Sementara peran serigala, Anda sudah bisa tebak sendiri, menyimbolkan peran pria dalam proses pendewasaan perempuan. Baik itu kekasih, penggoda, maupun pemangsa.

Masih Twilight

Hardwicke belum sepenuhnya melepaskan diri dari formulasi Twilight yang membesarkan namanya. Film adaptasi novel Stephanie Meyer yang meraup keuntungan US$400 juta itu memang melambungkan nama Hardwicke. Namun, perempuan yang juga pernah menggarap film independen Thirteen (2003) dan film Injil The Nativity Story (2006) itu memutuskan keluar dari tim produksi saat Twilight memasuki sekuel.

Dari sisi pemeran pria utama, Shiloh Fernandez sekilas mirip dengan Robert Pattinson yang menjadi Edward Cullen dalam seri Twilight. Usut punya usut, Fernandez ternyata pernah bersaing dengan Pattinson untuk memenangi peran Cullen.

Sementara untuk karakter Henry yang tetap setia menolong Valerie meski sudah ditolak, tidakkah mengingatkan Anda pada cinta mati manusia serigala Jacob Black kepada Bella Swan di kisah Twilight? Apalagi, Taylor Lautner yang memerankan Black juga sempat akan ditawari peran Peter dalam Red Riding Hood.

Keseluruhan, akting Amanda Seyfried memang menjadi daya tarik utama film ini. Mata bulat Seyfried yang berwarna biru bisa menangkap seluruh emosi Red Riding Hood. Garis-garis muka Seyfried juga berubah-ubah mulai dari kepanikannya saat sang kakak tewas, rasa penasaran terhadap tingkah aneh orang-orang di sekitarnya, wajah berani saat mengonfrontasi si serigala, dan kegugupannya saat mengajukan pertanyaan seperti, "Nenek, besar sekali matamu? Besar sekali telingamu? Dan besar sekali gigi-gigimu?"

Apa pun itu, mari kita nikmati saja suguhan dongeng versi dewasa ala Hardwicke di film yang juga diproduseri aktor Leonardo DiCaprio ini. Berikutnya mari kita tunggu upaya Hardwicke untuk keluar dari formulasi Twilight. Semoga nanti Hardwicke kembali dapat mengejutkan kita seperti kisah Thirteen sebagai antitesis teen-flicks atau The Nativity Story yang menginterpretasikan ulang kisah pembantaian bayi laki-laki di Bethlehem pada masa lalu.

(SZ)

Rabu, 02 Maret 2011

West Wing Gagal ala Yudhoyono

IBARAT serial televisi Holywood berjudul West Wing, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh orang-orang yang kritis di lingkaran dalam Istana. Mantan-mantan aktivis pun seakan mengalami goncangan budaya alias culture shock yang membuat mereka terlalu banyak berkomentar secara informal dan merembet ke personal. Padahal, kalau mau meniru West Wing, seharusnya 'manusia-manusia hebat' itu lebih banyak bekerja di belakang layar.

Ketika Soeharto memimpin, fungsi kehumasan negara biasanya diemban oleh Menteri Penerangan Harmoko atau Moerdiono yang saat itu menjabat sebagai Mensesneg. Maka, kalau dibandingkan dengan sekarang, seharusnya Mensesneg Sudi Silalahi yang banyak berbicara. Kenyataannya? Hampir semua lingkaran dalam Istana ikut sumbang suara.

Selain Dipo Alam, mantan aktivis 1978 yang kini menjadi Sekretaris Kabinet, SBY menaruh aktivis-aktivis 1990-an di sangkar kekuasaannya. Sebut saja Andi Arief yang menjadi staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana yang dulunya aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fisip UGM 1993-1994 dan Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa Fisipol 1994-1995. Belum lagi dua juga staf khusus Presiden Velix Wanggai dan Denny Indrayana. Velix yang kuliah di jurusan Hubungan Internasional UGM menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah sementara Denny yang kini menjabat sebagai staf khusus bidang hukum sempat menjadi aktivis pers Mahasiswa Fakultas Hukum UGM.

Baru-baru ini, Dipo dan Andi membuat geger publik akibat pernyataan yang begitu reaktif dan terkesan tidak dipikir masak-masak. Dipo dengan provokasi untuk memboikot dua media televisi dan satu media cetak yang kritis, Andi via akun jejaring sosial Twitter menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah. Apakah mereka mengalami goncangan budaya sehingga lupa diri akan jabatan publik yang diemban? Apakah mereka masih butuh waktu lagi untuk penyesuaian menjadi pejabat publik?

Menyitir sambutan WS Rendra saat menerima Penghargaan Akademi Jakarta (1975), metafora negara antara lain diibaratkan dengan penjaga tubuh dan penjaga roh. Peran masing-masing tak tergantikan dan tidak dapat dirangkap. Nah, penjaga roh seperti cendekiawan dan seniman berada di luar struktur kekuasaan. Mereka berumah di angin dan bertugas memberikan inspirasi dan daya hidup kepada masyarakat. Penjaga tubuh, dalam hal ini Pemerintah, membutuhkan suara kritis penjaga roh. Jadi, mengutip Hamdi, pekerjaan pengamat seperti para tokoh lintas agama memang cuma teriak-teriak saja. Justru, pejabat publik yang punya posisi harus lebih banyak berbuat dan bekerja ketimbang bicara melulu.

Sepantasnya, pejabat publik sedikit mengerem keinginan untuk berkicau di akun Twitter dan lebih fokus pada pekerjaan. Apabila ada hal-hal yang ingin disampaikan ke publik, sebaiknya cukup satu pintu saja yakni juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha. Terlalu banyak pintu-pintu informal malah akan menimbulkan kekacauan di muka publik. Jangan salah, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pun punya Twitter. Tetapi apa yang dilakukan Obama lebih pada pernyataan-pernyataan resmi sebagai perpanjangan fungsi kehumasan pemerintahan 'Negeri Paman Sam'. Jangan samakan dengan debat Twitter ala Andi versus Fahri Hamzah yang sesungguhnya sudah bukan pada tempatnya lagi.

Katakanlah, para staf khusus itu membela diri bahwa pernyataan mereka murni sebagai pribadi, tentu saja itu akan susah. Bagaimanapun, mereka sudah menjadi pejabat publik sekarang dan bisa saja orang akan menafsirkan ucapan mereka sebagai bagian dari kebijakan Pemerintah. Seorang Obama pun tidak pernah berdebat di Twitter dan pernyataan yang ia buat murni pernyataan-pernyataan resmi selaku orang nomor satu 'Negeri Paman Sam.'

Lalu, apa yang membuat Dipo dan Andi mudah panas dan meledak di dalam menghadapi kritik Pemerintah? Setidaknya ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan. Pertama, kebiasaan cari muka dari pejabat publik kepada bos besar. Sebetulnya wajar saja apabila seseorang tunduk kepada sang atasan. Seorang Wimar Witoelar pun, meski aktivis, tetap membela almarhum Gus Dur saat menjadi RI 1. Setiap orang harus memihak sesuai dengan posisi politik yang berbeda-beda. Hanya, ditilik dari fakta bahwa masih ada jalan formal apabila merasa pemberitaan di media merugikan, seperti jalur hukum via somasi atau Dewan Pers, Dipo sudah melakukan kesalahan besar. Cara menghasut seperti yang dilakukan Dipo malah menjadi blunder tersediri karena hampir semua analis mengatakan itu kontraproduktif.

Kedua, kemungkinan ada semacam kesepakatan politik tersendiri pada lingkaran dalam SBY. Mungkin, Dipo tidak lebih dari sebuah bemper yang dilakukan untuk mengetes air atas sebuah kebijakan yang sebenarnya memang dari SBY. Tuan besar SBY pun tetap selamat. Bisa saja, mungkin sebenarnya memang Pak SBY yang kesal sama media. Namun, tentu bisa kacau kalau pernyataan yang bikin geger itu sampai keluar dari mulut seorang Presiden. Pengiriman sinyal pun dilakukan oleh Dipo. Presiden, seolah berkata: kamu aja yang ngomong deh. Tanpa bermaksud terjebak pada pola viktimisasi, Dipo bisa saja hanya bemper. Alias korban.

Artikel ini merupakan artikulasi dari hasil wawancara dengan Hamdi Moeloek, pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Jumat (25/2).

Minggu, 23 Januari 2011

BURLESQUE, Duet Sri Panggung Lintas Generasi


Film penuh penghiburan dalam bingkai nada-nada indah.
Akting Christina Aguilera sedikit di atas harapan dan Cher
menyempurnakannya.


“WELCOME to Burlesque! Meski tanpa jendela, kami memiliki pemandangan terindah di seluruh Los Angeles,” sambut seorang pria yang jelas-jelas gay kepada Alice Maryln Rose alias ‘Ali’ (diperankan penyanyi pop Aguilera).
Karena dibujuk begitu, Ali yang seharian gagal mendapatkan
pekerjaan di LA lantas pasrah menyerahkan dua lembar US$10 yang ia miliki. Ali begitu ingin mengintip pertunjukan glamor di kelab kecil tersebut. Para penampil di Burlesque memang terkenal sebagai penari dan penyanyi lip sync yang memikat.
Bersama langkah Ali memasuki kelab, penonton akan terkesima menyaksikan penampilan biduanita Tess (Cher, Tea with Mussolini) di nomor Welcome to Burlesque. Ketika bertepuk tangan pada not terakhir, Ali pun bertekad menjadi salah satu penampil di panggung tersebut.
Setelah banting tulang menjadi waitress dan ikut audisi untuk menggantikan salah satu penari yang hamil, Ali akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung.
Suatu ketika, Tess yang juga pemilik kelab dibuat pusing oleh si bintang utama saat itu, penari pecandu alkohol Nikki (Kristen Bell). Ia pun menyuruh Ali menggantikan Nikki. Dibakar cemburu, Nikki menyabotase mikrofon Ali yang sedang menyanyi lip sync.
Tess yang berada di balik layar panik setelah satu per satu penonton
angkat kaki dari kelab. Tirai pun ditutup.
Namun, apa yang terjadi? Ali pun membuka mulut dan berimprovisasi di lagu Tough Lover dengan karakter suaranya yang bervibra. Para penonton, penari latar, Tess, dan bahkan Nikki terkesima. Tirai kembali
dibuka, penonton bersorak sorai dan Tess pun mendaulat Ali sebagai bintang utamanya mulai malam itu.
Sepanjang 119 menit, fi lm ini berkutat pada perjuangan Tess menyelamatkan Burlesque miliknya dari kepailitan, tekad Ali
menjadi seorang megabintang dibumbui drama percintaan dengan bartender Jack (Cam Gigandet), serta suka duka kehidupan penari bar.

Klise

Ide cerita itu, diakui sutradara Steve Antin, berawal dari penampilan band The Pussycat Dolls bersama Aguilera di awal 2000-an di kelab Neo-
Bur lesque. Kebetulan, Antin kakak Robin Antin (pendiri The Pussycat Dolls).
Plot cerita dibuat Antin sederhana saja, bahkan klise. Seorang perempuan muda penuh bakat mengejar impian ke ke kota besar.
Jadi, jangan harapkan alur cerita nan satir dan kompleks ala adaptasi Broadway seperti Chicago (2002) atau Nine (2009) di film ini.
Meski trailer film ini tergolong menjanjikan, sebetulnya banyak adegan yang bisa dieksplorasi.
Misalnya Nikki yang menyebalkan akan lebih menarik jika kompleksitas karakternya lebih terlihat. Begitu pula Georgia (diperankan penari Julianne Hough) yang setelah hamil di luar nikah sepertinya ‘mudah’ saja mendapatkan happy ending.
Jika dibandingkan, film Dreamgirls (2006) yang juga adaptasi Broadway setidaknya masih memperlihatkan konflik antara Deena Jones (Beyonce
Knowles), Effie White (Jennifer Hudson), dan manajer mereka Curtis Taylor Jr (Jamie Foxx).
Hasilnya, kisah Dreamgirls lebih epik walaupun ide kedua film itu sama-sama mengenai mengejar impian. Hanya, mungkin perlu diingat bahwa ide Antin untuk Burlesque memang cukup orisinal alias bukan adaptasi karya lawas. Seperti Robin, adiknya, Antin memang piawai menampilkan adegan penuh akrobat, bulu angsa, glitter, dan stoking jaring-jaring di film ini.
Di luar alur cerita yang sebetulnya biasa saja, cukup menyenangkan melihat film musikal dewasa setelah maraknya High School Musical (2006) dan serial televisi Glee.

Sri panggung

Penampilan distingtif ‘duo Sri Panggung’ alias diva beda generasi Aguilera dan Cher menjadi poin utama film ini. Cher, yang menampilkan balada You Haven’t Seen the Last of Me karya Diane Warren (sepenuhnya
live) mampu membuat interpretasi atas bekas primadona yang masa-masa
keemasannya sudah lewat. Setelah tujuh tahun tidak melihat penyanyi Believe ini tampil, sepertinya kita akan setuju bahwa biduanita 1980-n itu memang belum berakhir.
Di sisi lain, Aguilera sebagai Alice Marilyn ‘Ali’ Rose tampil dengan suara lantang akrobatik yang menjadi ciri khasnya. Sayangnya, pilihan Antin terhadap Aguilera bisa jadi merupakan pisau bermata dua. Para penikmat musik mungkin tidak akan terkaget-kaget saat karakter Ali ‘merebut’ panggung Burlesque. Tak ada efek surprise seperti ketika menonton jebolan American Idol Jennifer Hudson sebagai Effie di Dreamgirls.
Sudah begitu, Aguilera di panggung Burlesque adalah Aguilera, bukan Ali, meskipun di luar itu akting Aguilera cukup meyakinkan. Apakah
itu bukti bahwa setelah Jennifer Hudson, belum ada lagi penyanyi baru yang bisa mengemban tugas serupa?
Apa pun, film yang baru diganjar best original song dalam perhelatan Golden Globe ini tetaplah menghibur dan barangkali bisa menyemangati
Anda mengejar mimpi. Apa pun itu. (M4)


Dimuat di harian Media Indonesia, rubrik Pop Eskapisme, halaman 14

Selasa, 21 Desember 2010

Apa Bedanya

Naya adalah seorang remaja perempuan yang sangat pintar. Sayangnya, pintar di sini adalah pintar menjawab.

Suatu hari Naya pulang dari diskotik lewat tengah malam. Ibu Naya pun berkata.

"Naya, tidak baik perempuan baru pulang jam segini."

"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Upik Abu alias Cinderella yang dulu sering Ibu bacakan? Dia perempuan dan pulang setelah jam 12 malam."

Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.

Hari berikutnya, Ibu Naya menangkap basah Naya mengambil uang dari kamarnya diam-diam. Ibu Naya pun memarahinya.

"Naya, perbuatan mencuri itu tidak baik."

"Tenang, Bu. Apa bedanya dengan dongeng Robin Hood yang dulu sering Ibu bacakan? Dia juga seorang pencuri."

Si Ibu hanya bisa mengusap-usap dada.

Suatu hari Naya didamprat habis karena berbohong tentang nilai ulangannya. Ibu Naya pun berkata.

"Naya, kau tidak boleh berbohong. Itu dosa."

Naya memutar matanya.

"Tenang, Bu. Aku hanya mencontoh dongeng Pinokio yang dulu sering Ibu bacakan? Dia kan tukang bohong."

Lagi-lagi, Ibu Naya hanya bisa mengusap-usap dada.

Suatu hari Naya kembali pulang dari diskotik lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, terkejut Naya melihat sang Ibu tengah bercumbu di ruang tamu dengan tujuh pria sekaligus.

"Ibu? Apa-apaan ini?"

"Tenang, Nay. Apa bedanya Ibu dengan dongeng Snow White alias Putri Salju yang tinggal bersama tujuh pria sekaligus?"

Mata Naya jatuh pada tangan-tangan pria yang mengusap-usap dada Ibunda.



Kebon Jeruk, Desember 2010




Senin, 12 Juli 2010

Kebesaran Hati Fans Oranje di Erasmus Huis, Kedubes Belanda

SUASANA Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda di Jl H.R. Rasuna Said dini hari tadi (12/7) begitu meriah oleh lautan pendukung "Oranje." Sebuah poster besar berwarna jingga bertuliskan "You Ain't Much if You Ain't Dutch" berada di depan. Gelas-gelas bir, makanan kecil seperti kentang goreng tidak henti-henti menemani penonton yang hadir.

Suasana begitu riuh rendah tatkala Belanda berkali-kali berhasil menepis tekanan tim Spanyol. Berkali-kali mereka meneriakkan umpatan ketika tidak puas akan keputusan wasit ataupun beberapa kejadian lainnya.






Namun, ketika gol tunggal Andres Iniesta pada menit ke-116 berhasil menerobos gawang "Tim Oranje", penonton pun seolah menahan napas. Teriakan kekecewaan begitu peluit panjang ditiup pun tidak terbantahkan.

"Berikutnya, mereka akan menang," papar Ursa menyatakan rasa optimisnya. Ia mengenakan hiasan kepala berwarna jingga dan penuh bulu pada acar "Nonton Bareng!" tersebut. "Sebetulnya Belanda main bagus, tetapi memang Spanyol juga kuat. Sekarang Spanyol menang tetapi empat tahun lagi pasti Belanda."

"Saya sedikit kecewa," tutur Edwin, manajer keamanan Erasmus Huis kepada Media Indonesia. Ia memperkirakan lebih dari 1.500 orang memenuhi Erasmus Huis dan lebih dari 90% di antaranya adalah warga Indonesia. "Menjadi posisi keamanan membuat saya tidak bisa menyaksikan pertandingan sepenuhnya untuk memberikan komentar. Namun, baik Spanyol maupun Belanda sama-sama bermain hebat dan harus ada satu tim yang memenangi pertandingan."

"Hancur hati gue!" tutur Gading Marten yang hadir mendukung tim kesayangannya di Erasmus Huis, Jakarta. "Saya tetap bangga sama Belanda. Juara tanpa mahkota memang selalu melekat di Belanda. Tapi memang kalau yang namanya bola memang selalu kontroversi seperti banyaknya kartu."

Gading juga berpendapat sebelum gol tunggal pertandingan terjadi itu sudah berada pada keadaan offset. Namun, ia tetap berbesar hati dan mengatakan pada sebuah pertandingan memang selalu ada menang dan kalah.

"Saya setuju untuk penggunaan hawk eye pada sepakbola. Tenis sudah pake, basket sudah pake jadi (sepak)bola sepertinya sudah harus pake," tutur Gading yang menyatakan masih terus mendukung tim Belanda untuk ke depannya.

Sementara bagian pers dan juru bicara Kedubes Belanda Dorine Wytema mengatakan sama sekali tidak berkeberatan perihal wasit pertandingam. Menurut Wytema yang tengah mengandung, referee sudah cukup fair.




"Ia memang membuat beberapa kesalahan bagi kedua tim, tetapi itu manusiawi dan masih cukup wajar," papar Wytema yang datang bersama suaminya. "Saya pikir wasit pertandingan kali ini oke-oke saja. Ia memimpin pertandingan dengan cukup baik."

Tatkala Media Indonesia menyinggung peluang Belanda di Pentas Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, Wytema berseloroh kini "Negeri Kincir Angin" memiliki sebuah "goal" baru.

"Ide untuk memakai teknik hawk eye adalah sebuah ide yang bagus. Ini untuk membantu wasit mengambil keputusan-keputusan signifikan pada sebuah pertandingan."

Itulah sekutip potret dari pendukung setia Oranje yang berbesar hati. Hup Holland Hup!

Rabu, 16 Juni 2010

Review Film Minggu Pagi di Victoria Park: Sepotong Ahad Kaum Marjinal Indonesia di Belahan Dunia





Judul : Minggu Pagi di Victoria Park
Pemain : Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Imelda Soraya, Permatasari Harahap
Sutradara : Lola Amaria
Penulis : Titien Wattimena
Produser : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman
Produksi : Pic[k]lock Production
Durasi : 97 menit

DUA orang pembantu alias TKI dan anak-anak asuh mereka pulang dari sekolah dasar. Salah satu dari mereka menggerutu karena si anak laki-laki yang merupakan anak majikan lagi-lagi berkelahi meski sudah dilarang. Ketika tuan mudanya mengeluh karena selalu dihina berdasarkan posturnya, si pengasuh pun naik pitam.

“Mayang bilang, kamu harus menerima kekurangan bahwa tubuh kamu itu kecil. Jika kamu tidak mau ikhlas, seumur hidupmu terisi dengan frustrasi dan amarah.”

Sepenggal kalimat itu terucap dari bibir Sari yang menerjemahkan perkataan temannya kepada anak asuhnya. Rekannya yang bernama Mayang (diperankan Lola Amaria) meminta agar Sari yang mengalihbahasakan dialek Indonesia-Jawa menjadi bahasa Kanton. Sari pun menyanggupi.

Terenyuh, si bocah memeluk pembantunya.

Itu adalah sekilas kisah hidup perempuan yang menjadi pahlawan devisa di mancanegara. Benang merah itu yang ingin ditampilkan kru film Minggu Pagi di Victoria Park. Penulis sempat melihat pola yang sama film besutan Ani Ema Susanti yang sempat menggagas kisah serupa. Bedanya, penampilan sutradara kali ini lebih menekankan kepada fiksi mini. Mini, karena sebagian besar realita ditampilkan begitu riil sampai terkesan film ini menjadi handbook untuk para calon TKI.

Namun, cerita yang sederhana dapat ditampilkan dengan kompleksitas dari rangkaian gambar di balik rangkaian pita seluloid. Sesungguhnya plot-plot yang ditampilkan cukup simpel: persaingan dua anak untuk mendapatkan pengakuan bapak, memberikan materi sebagai bentuk kasih sayang kepada pasangan, konflik batin seorang kakak yang iri tetapi mengasihi adiknya sampai cinta sesama jenis. Namun, kompleksitas justru muncul dari hal-hal sederhana tersebut.

Daya tarik Minggu Pagi di Victoria Park bisa jadi terletak di dua pemeran utamanya. Baik Lola Amaria maupun Titi Sjuman (yang kemarin menggaet hati audiens via penampilan apik di Mereka Bilang, Saya Monyet!) memberikan penghayatan penuh. Lola berperan sebagai Mayang, sulung yang haus perhatian ayah dan merasa biasa-biasa saja. Titi memerankan si bontot bernama Sekar yang selalu menjadi pusat tata surya kaum adam di sekitarnya—terutama ayahanda.

Cuplikan-cuplikan yang terselip di antara inti cerita mampu membangun pemahaman mengenai apa yang menyebabkan Mayang begitu ogah melacak si adik—terlepas dari kenyataan bahwa dirinya memang ditugasi pergi ke Hong Kong oleh bapak untuk itu.

Minggu Pagi di Victoria Park mengisahkan suka duka pembantu rumah tangga yang mendominasi sektor ketenagakerjaan di luar negeri. Seluruh konsekuensi atas tekanan jiwa yang dapat dialami TKI dikupas di dalam film ini mulai dari terbelit utang, menjual diri untuk mendapatkan pemasukan, sampai menutup riwayat pribadi karena tidak tahan menghadapi hidup.

Kekurangan sinema ini adalah terlalu banyak realita yang ingin dirangkum dalam sebuah cerita linear. Hal ini dapat mengakibatkan sebagian penyimak menganggap ada cerita yang terlalu berlebihan dan mengada-ada. Padahal, bisa jadi itu memang berdasarkan fakta.

Kelemahan yang sama terdapat pada film Alangkah Lucunya karya Deddy Mizwar yang, terlepas dari pertanyaan sosial yang diberikan, luruh ke dalam nilai-nilai komersialitas yang berlebihan. Penyajian merupakan hal yang terpenting dalam menyampaikan cerita, tetapi kearifan penonton untuk bisa meresapi makna di balik narasi jauh lebih penting.

Ending film ini meski termasuk kategori “bahagia” masih dibumbui klip masa silam yang membuat kita mengerti sepenuhnya dari mana kisah ini dimulai sebelum diakhiri. Di luar itu, terlihat cuplikan pagi Ahad di belahan dunia lain menampilkan sorakan “pahlawan devisa” menyambut grup musik kesayangan mereka. Band yang mungkin bagi kalangan tertentu di Indonesia dipandang tidak “keren” atau “trendi.” Ah, realita ... (*)